SIBERKITA.ID, LABUNGKARI — Perpisahan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 69 Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka dari Desa Wakea Kea, Kecamatan Hu, Kabupaten Buton Tengah, pada 24 Agustus 2026, bukan sekadar penanda berakhirnya masa pengabdian. Mereka meninggalkan sejumlah program yang dirancang agar tetap digunakan warga setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Salah satu yang diharapkan menjadi warisan jangka panjang ialah Web Profil Desa Wakea Kea, sebuah platform digital yang dikembangkan mahasiswa untuk mendukung pelayanan sekaligus penyebaran informasi desa.
Melalui laman tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi desa dan mengakses dokumen administrasi secara lebih praktis. Warga tidak harus selalu datang ke kantor desa hanya untuk mendapatkan informasi atau dokumen tertentu.
Kehadiran platform digital itu juga diarahkan untuk memperkuat keterbukaan informasi publik dan mendorong pemerintah desa beradaptasi dengan kebutuhan pelayanan berbasis teknologi.
Program digitalisasi tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian pengabdian mahasiswa selama berada di Wakea Kea. Program KKN tidak hanya menyasar teknologi, tetapi juga menyentuh fasilitas publik, keselamatan, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.
Di ruang publik, mahasiswa memasang papan nama batas dusun untuk memperjelas pembagian wilayah Desa Wakea Kea. Mereka juga memasang reflektor lampu jalan pada sejumlah titik untuk membantu pengguna jalan mengenali batas jalan dan tikungan saat malam hari.
Fasilitas lain yang dibangun ialah papan nama jabatan perangkat desa yang dipasang di rumah para aparatur desa. Keberadaan papan tersebut diharapkan memudahkan warga mengenali perangkat desa sekaligus membuka akses komunikasi yang lebih mudah antara masyarakat dan pemerintah desa.
Di sekolah, mahasiswa membawa isu yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja: teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Siswa SMP diberikan sosialisasi mengenai pemanfaatan AI secara bijak, termasuk edukasi untuk mengenali perbedaan antara konten yang dibuat manusia dan konten yang dihasilkan AI. Materi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan literasi digital sejak dini di tengah semakin mudahnya masyarakat mengakses teknologi berbasis AI.
Di tingkat sekolah dasar, perhatian diarahkan pada persoalan perundungan. Mahasiswa menggelar sosialisasi stop bullying, disertai komitmen kelas anti-perundungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan belajar pada sore hari.
Pengabdian juga berlangsung di luar ruang kelas. Mahasiswa terlibat dalam kegiatan senam sehat bersama anak-anak SD dan ibu-ibu, pendampingan mengaji rutin, serta pengajian majelis bersama warga.
Pembimbing Lapangan KKN USN Kolaka, Arbain, S.Pd., M.Si., mengatakan program yang telah direalisasikan dan diserahterimakan sebelum penarikan diharapkan tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan desa.
Sementara itu, Koordinator Desa KKN, Danang Hadi Wibowo, mengatakan rangkaian kegiatan disusun untuk memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, baik melalui pembangunan fasilitas maupun peningkatan pengetahuan dan kapasitas warga.
Penarikan mahasiswa pada 24 Agustus lalu menjadi akhir dari masa pengabdian mereka di Wakea Kea. Namun, bagi masyarakat, sejumlah pekerjaan yang telah ditinggalkan baru memasuki tahap berikutnya: digunakan, dirawat, dan dikembangkan.
Di titik itu, keberhasilan program KKN tidak lagi hanya bergantung pada apa yang dikerjakan mahasiswa selama berada di desa, tetapi pada sejauh mana hasilnya dapat terus hidup setelah mereka pergi.(*)

























