Menu ✖

Mode Gelap
Pertanian Organik Kolaka, Menjaga Tanah sekaligus Merawat Ekonomi Petani Produksi dan Penjualan Nikel Vale Meningkat, Pendapatan Tembus 896 Juta Dollar AS Pemkab Kolaka Siapkan Hari Kebudayaan Mekongga, Libatkan Generasi Muda Karhutla di Puulemo dan Baula, Vale Indonesia Siapkan Langkah Penanganan Terpadu Penyidikan Perambahan Tanamalia Meluas, Gakkum Kehutanan Dalami Keterlibatan Ali Kamri Atasi Antrean BBM, Bupati Kolaka Pantau Distribusi dan Solar Bersubsidi

Kampus

Mahasiswa USN Kolaka Dilatih Mitigasi Resiko Kerja di Areal Tambang

badge-check


 Mahasiswa USN Kolaka Dilatih Mitigasi Resiko Kerja di Areal Tambang Perbesar

SIBERKITA.ID, KOLAKA — Bekerja di pertambangan, kesalahan kecil dapat berujung pada risiko besar. Terlebih pada tambang bawah tanah, ketika aktivitas manusia berlangsung di ruang yang memiliki karakteristik geologi, ventilasi, dan akses keselamatan yang berbeda dari tambang terbuka. Kesadaran menghadapi risiko itu kini mulai ditanamkan kepada calon tenaga profesional sejak dari bangku kuliah.

Sekitar 60 mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka mengikuti Pelatihan Teknologi Keselamatan Tambang Batubara Bawah Tanah di Auditorium USN Kolaka, Senin (24/8/2026). Pelatihan berlangsung hingga 27 Agustus dan menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata industri pertambangan.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC), Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara, serta Program Studi Teknik Pertambangan USN Kolaka.

Bagi perguruan tinggi, pembekalan semacam ini semakin relevan ketika dunia pertambangan membutuhkan tenaga kerja yang bukan hanya mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami risiko dan mengambil keputusan dengan mengutamakan keselamatan.

Rektor USN Kolaka Dr. Syarifuddin Tundeng, S.S., M.Pd., mengatakan kompetensi dan sertifikasi merupakan modal penting bagi lulusan untuk memasuki dunia kerja.

“Kompetensi dan sertifikasi sangat penting sebagai modal untuk memasuki dunia kerja,” ujar Syarifuddin saat membuka pelatihan.

Menurut dia, pendidikan tinggi tidak cukup berhenti pada penguasaan teori. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman belajar yang mendekati persoalan di lapangan agar memiliki kesiapan ketika berhadapan dengan tuntutan industri.

Risiko di Bawah Permukaan

Tambang bawah tanah menghadirkan persoalan keselamatan yang khas. Ruang kerja yang berada di bawah permukaan menuntut penguasaan terhadap kondisi geoteknik, sirkulasi udara, potensi bahaya, serta prosedur penanganan keadaan darurat.

Karena itu, mahasiswa dalam pelatihan tersebut mempelajari sejumlah aspek yang menjadi fondasi keselamatan tambang bawah tanah. Materinya antara lain teknik penambangan bawah tanah, sistem ventilasi, pengendalian geoteknik, manajemen risiko, prosedur tanggap darurat, serta penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Pengetahuan tersebut menempatkan keselamatan bukan sebagai pelengkap kegiatan produksi, melainkan sebagai bagian dari keputusan teknis pertambangan.

Sistem ventilasi, misalnya, menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi udara di ruang kerja bawah tanah. Sementara pengendalian geoteknik berkaitan dengan kemampuan memahami kondisi batuan dan kestabilan area kerja. Keduanya membutuhkan pemahaman teknis sekaligus ketelitian dalam membaca risiko.

Bagi mahasiswa, pelatihan juga memberikan kesempatan untuk melihat persoalan pertambangan dari perspektif yang lebih luas. Diskusi dan pertukaran pengalaman dengan pemateri menjadi ruang untuk menghubungkan teori yang dipelajari di kampus dengan praktik keselamatan di industri.

Membangun Budaya Keselamatan

Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor USN Kolaka, wakil rektor, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Dekan Fakultas Teknologi Informasi, Koordinator Program Studi Teknik Pertambangan, serta dosen di lingkungan program studi.

Kehadiran unsur pimpinan dan akademisi sekaligus menunjukkan bahwa penguatan kompetensi mahasiswa tidak semata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga membangun cara pandang profesional terhadap keselamatan.

Syarifuddin meminta mahasiswa mengikuti pelatihan secara aktif dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas pengetahuan serta jejaring profesional. Pengalaman yang diperoleh diharapkan menjadi bekal ketika mereka memasuki lingkungan kerja yang semakin kompetitif.

Bagi Program Studi Teknik Pertambangan USN Kolaka, kolaborasi dengan JOGMEC dan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara memperluas ruang pembelajaran mahasiswa. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat mempelajari teori pertambangan, tetapi juga ruang untuk mengenalkan standar, teknologi, dan budaya keselamatan yang berkembang di industri.

Pada akhirnya, kemampuan seorang calon insinyur tambang tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia memahami cara mengambil mineral dari bumi. Lebih dari itu, ia dituntut memahami bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan dengan mengendalikan risiko dan melindungi manusia yang berada di dalamnya.

Sebelum benar-benar turun ke lubang tambang, mahasiswa belajar satu hal mendasar: produksi dapat dikejar, tetapi keselamatan tidak boleh ditawar.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menperin Resmikan Gerbang USN Kolaka, Dorong Penganggaran Kampus Lewat DPR RI

1 November 2026 - 10:07 WITA

Kerjasama dengan PT PKSS, Buka Peluang Alumni USN Kolaka Bisa Berkarier di BRI 

29 Oktober 2026 - 15:25 WITA

FISIEPRENEUR USN Kolaka Tembus 50 Tenant, Mahasiswa Didorong Jadi Pencipta Kerja

28 Oktober 2026 - 15:48 WITA

USN Kolaka Ajak Pelajar Bangun Karakter dan Sportivitas Lewat GOPE IV

27 Oktober 2026 - 12:24 WITA

USN Kolaka Perkuat Layanan Kekayaan Intelektual, Gandeng Kemenkum Sultra

23 Oktober 2026 - 16:42 WITA

Trending di Kampus