Menu ✖

Mode Gelap
Karhutla di Puulemo dan Baula, Vale Indonesia Siapkan Langkah Penanganan Terpadu Penyidikan Perambahan Tanamalia Meluas, Gakkum Kehutanan Dalami Keterlibatan Ali Kamri Atasi Antrean BBM, Bupati Kolaka Pantau Distribusi dan Solar Bersubsidi Inflasi Kolaka 4,42 Persen, Bupati Minta Gerakan Pangan Murah Diperluas Ijazah Paket C Buka Peluang Kerja bagi Warga di Pomalaa Sekda Kolaka: Pemerintahan di Era Digital Harus Mengubah Cara Kerja

Bisnis

ANTAM Kembangkan Budidaya Teripang untuk Ekonomi Biru di Kolaka

badge-check


 ANTAM Kembangkan Budidaya Teripang untuk Ekonomi Biru di Kolaka Perbesar

SIBERKITA.ID, KOLAKA — Pengembangan budidaya teripang pasir menjadi salah satu upaya PT ANTAM (Persero) Tbk Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka untuk mendorong ekonomi biru sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat pesisir. Program yang dikembangkan di Desa Tambea, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, itu menggabungkan pemberdayaan masyarakat, riset, dan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Program bertajuk Mattirowalie Blue Hatchery Teripang tersebut diperkenalkan dalam Seminar Nasional Oseanografi Kepulauan Tropis Series #1 Tahun 2026 di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Senin (19/10/2026).

Dalam seminar yang diikuti sekitar 200 mahasiswa, akademisi, dan praktisi itu, ANTAM UBP Nikel Kolaka memaparkan pengalaman mengembangkan potensi sumber daya pesisir melalui budidaya teripang. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan UHO dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), khususnya dalam pengembangan proses pembenihan.

Community Development Work Unit Head ANTAM UBP Nikel Kolaka, Anggoro Dwi Saputro, mengatakan, keterlibatan akademisi dan pakar diperlukan untuk memperkuat keberlanjutan program tersebut. Pengembangan budidaya teripang diharapkan tidak hanya membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, tetapi juga dapat diterapkan di wilayah pesisir lain yang memiliki potensi serupa.

“Kami membutuhkan banyak masukan dari para akademisi dan pakar untuk mendukung keberlanjutan Program Blue Hatchery Teripang di Desa Tambea. Kami berharap program ini dapat terus berkembang dan direplikasi di daerah lain yang memiliki potensi budidaya teripang,” ujar Anggoro.

Menjaga Populasi Teripang

Selain mengembangkan pembenihan, ANTAM merencanakan skema restocking atau pengembalian bibit teripang ke habitat alaminya. Proporsi bibit yang direncanakan untuk dikembalikan ke perairan mencapai 5–10 persen dari total produksi bibit di fasilitas pembenihan.

Rencana tersebut ditujukan untuk mendukung keberlanjutan populasi teripang di alam. Namun, pelaksanaannya akan mempertimbangkan hasil kajian ilmiah dan masukan para ahli agar kegiatan budidaya tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem laut.

Pendekatan ini menempatkan ekonomi biru bukan semata-mata sebagai upaya memanfaatkan sumber daya laut untuk menghasilkan pendapatan. Pengelolaannya juga perlu memperhatikan kelestarian sumber daya hayati dan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pesisir.

Potensi teripang pasir menjadi salah satu sumber daya yang dapat dikembangkan melalui pendekatan tersebut. Keberhasilan program, bagaimanapun, memerlukan dukungan pengetahuan teknis, pengelolaan budidaya yang tepat, serta keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama.

Kolaborasi Lintas Sektor

Seminar nasional yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Oseanografi UHO itu mengangkat tema “Inovasi Ilmu dan Teknologi Oseanografi untuk Mewujudkan Ekonomi Biru yang Berkelanjutan di Kepulauan Tropis”.

Selain Anggoro, kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber dari bidang akademik, meteorologi maritim, dan teknologi.

Muhammad Iqbal dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University membahas inovasi teknologi kelautan untuk mendukung pengelolaan pesisir dan laut Indonesia. Sementara itu, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim BMKG Kendari, Faizal Habibie, memaparkan pemanfaatan data dan informasi oseanografi untuk mendukung peringatan dini serta keselamatan maritim.

Narasumber lainnya, Umaidi Suhari dari PT Terra Drone Indonesia, mengulas penggunaan teknologi drone untuk pemetaan dan pemantauan wilayah pesisir kepulauan tropis.

Beragam perspektif tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir membutuhkan dukungan lintas disiplin, mulai dari riset kelautan, pemanfaatan teknologi, penyediaan informasi cuaca dan kondisi laut, hingga penguatan kapasitas masyarakat.

Bagi ANTAM UBP Nikel Kolaka, forum akademik tersebut menjadi kesempatan untuk memperoleh masukan ilmiah sekaligus memperluas kerja sama dalam mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Kolaborasi industri, perguruan tinggi, lembaga riset, dan masyarakat diharapkan dapat mendorong lahirnya inovasi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah. Melalui pengembangan budidaya teripang di Desa Tambea, ANTAM berupaya mempertemukan peluang ekonomi masyarakat dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya laut.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ormas di Wolo Tolak Pencabutan IUP CNI, Khawatir Ekonomi Rakyat Terdampak

23 Oktober 2026 - 16:36 WITA

Karhutla di Puulemo dan Baula, Vale Indonesia Siapkan Langkah Penanganan Terpadu

23 Oktober 2026 - 11:05 WITA

Sekda Kolaka Dorong Inovasi Pertanian, Gerakan Pangan Murah Tekan Beban Masyarakat

22 Oktober 2026 - 15:55 WITA

Vale Indonesia Buka Akses Pasar bagi UMKM Binaan di Kolaka

21 Oktober 2026 - 14:48 WITA

Dulu Kebasahan Saat Hujan, Kini Warga Kolaka Nikmati Rumah Layak Huni Lewat Bantuan Vale Indonesia

19 Oktober 2026 - 15:53 WITA

Trending di Bisnis