SIBERKITA.ID, KOLAKA – Pemerintah Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, mendorong penguatan pangan lokal dan inovasi pertanian untuk menjaga ketersediaan bahan pangan serta stabilitas harga. Upaya tersebut diwujudkan melalui Gerakan Pangan Murah Serentak dan penyaluran bantuan bibit kepada kelompok wanita tani dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-46 Tahun 2026.
Kegiatan yang dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka Akbar, S.Sos., itu berlangsung di Tribun Lapangan Sepak Bola Karaeng Badong-L. Madira, Kelurahan Tosiba, Kecamatan Samaturu, Kamis (22/10/2026).
Peringatan HPS tahun ini mengusung tema Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Innovate Today Nourish Tomorrow, yang berarti berinovasi hari ini untuk menjaga pangan masa depan. Tema tersebut menekankan pentingnya inovasi dalam produksi, distribusi, dan konsumsi pangan dengan memanfaatkan teknologi serta kearifan lokal.
Dalam sambutannya, Akbar mengatakan, penguatan ketahanan pangan perlu dilakukan dengan mengoptimalkan potensi komoditas unggulan daerah. Kolaka memiliki potensi pertanian dan perikanan, antara lain padi, jagung, sagu, kakao, serta hasil laut yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat.
Menurut dia, potensi tersebut perlu ditopang dengan perluasan lahan tanam, peningkatan kapasitas produksi, serta pendampingan bagi petani, nelayan, dan peternak. Kolaborasi antarpemangku kepentingan juga diperlukan agar ketersediaan pangan terjaga dan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.
“Ketahanan pangan harus kita perkuat melalui inovasi, optimalisasi potensi pangan lokal, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar ketersediaan pangan tetap terjaga, harga terjangkau, serta kesejahteraan masyarakat semakin meningkat,” ujar Akbar.
Jaga Daya Beli Masyarakat
Selain memperkuat produksi pangan, pemerintah daerah menggelar Gerakan Pangan Murah Serentak untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga di bawah harga pasar.
Kegiatan tersebut melibatkan Perum Bulog, Dinas Ketahanan Pangan, dan sejumlah mitra terkait. Komoditas yang disediakan antara lain beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), minyak goreng, gula pasir, dan telur.
Gerakan ini juga menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, inflasi tahunan Kabupaten Kolaka pada September 2026 tercatat sebesar 4,42 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga, terutama untuk komoditas pangan yang berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
Melalui penyediaan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa menghadapi tekanan harga yang terlalu besar. Namun, upaya stabilisasi harga perlu berjalan beriringan dengan penguatan produksi dan kelancaran distribusi pangan.
Dorong Kemandirian Pangan Keluarga
Dalam kegiatan yang sama, Pemerintah Kabupaten Kolaka menyerahkan bantuan bibit kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui Program Kartu Beramal.
Bantuan tersebut diharapkan mendorong kelompok wanita tani memanfaatkan lahan produktif untuk kegiatan pertanian. Pemanfaatan pekarangan dan lahan yang tersedia dapat menjadi salah satu cara memperkuat ketersediaan pangan di tingkat keluarga sekaligus mendukung pengembangan pertanian lokal.
Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat membudayakan konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Masyarakat diharapkan tidak hanya memperhatikan ketersediaan dan harga pangan, tetapi juga kualitas serta keragaman makanan yang dikonsumsi.
Selain itu, kecintaan terhadap produk pangan lokal perlu diperkuat untuk mendukung petani dan pelaku usaha pangan daerah.
Peringatan Hari Pangan Sedunia di Kolaka menjadi momentum untuk mempertemukan upaya menjaga daya beli masyarakat dengan pengembangan produksi pangan lokal. Keberlanjutan program tersebut akan bergantung pada sinergi pemerintah, kelompok tani, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun sistem pangan yang produktif, terjangkau, dan berkelanjutan.(*)




























