Menu

Mode Gelap
Pendapatan Daerah Diproyeksi Rp1,4 Triliun, APBD Kolaka 2027 Disiapkan Jadi Motor Investasi dan Layanan Publik RSBG Dituntut Mandiri, Bupati Kolaka Prioritaskan Pembenahan Layanan dan Tata Kelola PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers Ruang Bersama Indonesia di Tikonu: Ketika Desa Menemukan Cara Baru Memberdayakan Perempuan Dari Daerah Tambang, Wastra Binaan ANTAM UBPN Kolaka Menuju Panggung Nasional HUT Dekranas ke-46, Wastra Kolaka Meniti Jalan ke Panggung Nasional

Bisnis

Nyawa Ditentukan Menit, PT Vale Perkuat Respons Tenaga Medis Darurat Jantung

badge-check


 Nyawa Ditentukan Menit, PT Vale Perkuat Respons Tenaga Medis Darurat Jantung Perbesar

SIBERKITA.ID, KOLAKA — Keterlambatan beberapa menit saja dapat menjadi pembeda antara hidup dan kematian dalam kasus serangan jantung. Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tantangan itu kian nyata akibat jarak dan keterbatasan akses layanan rujukan. Dalam kondisi tersebut, penguatan tenaga medis di garis terdepan menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Upaya itu mulai dijawab melalui pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) yang digelar PT Vale Indonesia IGP Pomalaa bersama Dinas Kesehatan Kolaka di RS Benyamin Guluh, Sabtu (25/4/2026). Pelatihan ini membekali tenaga medis dengan kemampuan penanganan kegawatdaruratan jantung secara cepat, terukur, dan berbasis standar internasional.

Waktu tempuh menuju rumah sakit rujukan dari sejumlah wilayah di Kolaka dapat mencapai 30 hingga 40 menit. Dalam situasi henti jantung, rentang waktu tersebut kerap menjadi fase paling krusial. Tanpa stabilisasi awal yang memadai, peluang keselamatan pasien dapat menurun drastis sebelum tiba di fasilitas rujukan.

Kepala Dinas Kesehatan Kolaka, Sri Raoda Buna, menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan tindakan menjadi kunci utama dalam kondisi kritis. “Tenaga medis harus mampu merespons secara sistematis dan berbasis standar. Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapsiagaan itu,” ujarnya.

Secara nasional, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan tren yang mulai bergeser ke usia produktif. Kondisi ini memperbesar tekanan pada layanan kesehatan, terutama di daerah dengan keterbatasan infrastruktur medis.

Head of HSER IGP PT Vale Indonesia, Riza Ganna, menyebutkan bahwa penguatan kapasitas tenaga medis di fasilitas layanan primer menjadi garis pertahanan pertama yang menentukan. “Stabilisasi awal sangat krusial sebelum pasien dirujuk. Ini menyangkut keselamatan pasien dalam fase paling genting,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana tugas Direktur RSUD Benyamin Guluh Kolaka, Firdaus menambahkan bahwa penguasaan teknik ACLS kini menjadi kebutuhan mendasar di rumah sakit maupun puskesmas. Penanganan kasus kritis menuntut respons cepat, terstruktur, dan berbasis kerja tim.

Kolaborasi pemerintah daerah dan sektor swasta melalui pendekatan ESG menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kesehatan. Namun, tantangan belum sepenuhnya teratasi.

Ketika waktu menjadi penentu, kesiapan di garis terdepan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Produksi Pulih, Laba PT Vale Melonjak; Hilirisasi Nikel Masuk Fase Penentu

30 Juli 2026 - 11:08 WITA

Pekan Raya ANTAM Jadi Etalase UMKM, Perkuat Ekonomi Lokal Kolaka

29 Juli 2026 - 18:22 WITA

Wujudkan Semangat Tangguh dan Bertanggung Jawab, PT Vale Perkuat Ekosistem Informasi Publik yang Kredibel

27 Juli 2026 - 11:08 WITA

Bertumbuh dengan Tanggung Jawab, PT Vale Perkuat Hilirisasi dan Keberlanjutan di Morowali

26 Juli 2026 - 17:03 WITA

Perkuat Generasi Penggerak Keberlanjutan di Luwu Timur, PT Vale Luncurkan Kelas Konservasi

24 Juli 2026 - 22:30 WITA

Trending di Bisnis