SIBERKITA.ID, KOLAKA — Keterlambatan beberapa menit saja dapat menjadi pembeda antara hidup dan kematian dalam kasus serangan jantung. Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tantangan itu kian nyata akibat jarak dan keterbatasan akses layanan rujukan. Dalam kondisi tersebut, penguatan tenaga medis di garis terdepan menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.
Upaya itu mulai dijawab melalui pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) yang digelar PT Vale Indonesia IGP Pomalaa bersama Dinas Kesehatan Kolaka di RS Benyamin Guluh, Sabtu (25/4/2026). Pelatihan ini membekali tenaga medis dengan kemampuan penanganan kegawatdaruratan jantung secara cepat, terukur, dan berbasis standar internasional.
Waktu tempuh menuju rumah sakit rujukan dari sejumlah wilayah di Kolaka dapat mencapai 30 hingga 40 menit. Dalam situasi henti jantung, rentang waktu tersebut kerap menjadi fase paling krusial. Tanpa stabilisasi awal yang memadai, peluang keselamatan pasien dapat menurun drastis sebelum tiba di fasilitas rujukan.
Kepala Dinas Kesehatan Kolaka, Sri Raoda Buna, menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan tindakan menjadi kunci utama dalam kondisi kritis. “Tenaga medis harus mampu merespons secara sistematis dan berbasis standar. Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapsiagaan itu,” ujarnya.
Secara nasional, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan tren yang mulai bergeser ke usia produktif. Kondisi ini memperbesar tekanan pada layanan kesehatan, terutama di daerah dengan keterbatasan infrastruktur medis.
Head of HSER IGP PT Vale Indonesia, Riza Ganna, menyebutkan bahwa penguatan kapasitas tenaga medis di fasilitas layanan primer menjadi garis pertahanan pertama yang menentukan. “Stabilisasi awal sangat krusial sebelum pasien dirujuk. Ini menyangkut keselamatan pasien dalam fase paling genting,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana tugas Direktur RSUD Benyamin Guluh Kolaka, Firdaus menambahkan bahwa penguasaan teknik ACLS kini menjadi kebutuhan mendasar di rumah sakit maupun puskesmas. Penanganan kasus kritis menuntut respons cepat, terstruktur, dan berbasis kerja tim.
Kolaborasi pemerintah daerah dan sektor swasta melalui pendekatan ESG menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kesehatan. Namun, tantangan belum sepenuhnya teratasi.
Ketika waktu menjadi penentu, kesiapan di garis terdepan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.(*)






























