Oleh: Abdul Saban
SIBERKITA.ID, KOLAKA – Pagi belum benar-benar ramai ketika seorang ibu muda duduk di tepi tempat tidur pemeriksaan di Puskesmas Pomalaa. Tangannya sesekali menggenggam ujung jilbab, sementara matanya tertuju pada layar ultrasonografi di hadapannya. Di ruangan bercat pucat itu, suara mesin USG terdengar lirih memecah kesunyian.
Di samping alat pemeriksaan, dr. Marwan – seorang dokter kandungan memperhatikan pergerakan kecil di layar monitor. Sesekali ia menjelaskan kondisi janin kepada pasien yang tampak tegang namun penuh harap. Di luar ruangan, beberapa ibu hamil lain menunggu giliran sambil berbincang pelan dengan keluarga mereka.
Pemandangan sederhana itu menjadi wajah nyata dari layanan kesehatan ibu dan anak (KIA) gratis yang digelar PT Vale Indonesia Tbk IGP Pomalaa bersama Puskesmas Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Rabu (6/5/2026). Program yang merupakan bagian dari gerakan sosial lingkungan “Kolaka Bersih, Sehat, dan Berdaya” tersebut membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar pemeriksaan rutin: menjaga kualitas generasi masa depan sejak mereka masih berada di dalam rahim.
Di salah satu sudut ruangan pemeriksaan, sebuah spanduk biru bertuliskan “Layanan Kesehatan Ibu dan Anak” berdiri berdampingan dengan alat kesehatan dan lemari obat sederhana. Tak ada kesan mewah. Namun, justru dari ruang kecil itulah upaya besar memutus rantai stunting mulai dijalankan.
Puluhan ibu hamil mengikuti pemeriksaan ultrasonografi (USG) gratis dengan pendampingan langsung dokter spesialis kandungan. Mereka datang dari berbagai wilayah di sekitar Pomalaa untuk memastikan kondisi janin mereka tumbuh sehat.

Sebagian peserta bahkan baru pertama kali menjalani pemeriksaan kandungan menggunakan alat USG secara lengkap.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. H. Marwan Abbas, mengatakan bahwa perhatian terhadap kesehatan anak sesungguhnya harus dimulai sejak masa kehamilan.
“Kalau perkembangan janin terhambat, bayi berisiko lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Nah, bayi yang lahir BBLR ini berpotensi besar mengalami stunting di kemudian hari. Lewat program ini, kita memotong rantai stunting itu sejak dari dalam kandungan,” ujar Marwan di sela pemeriksaan.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Dalam banyak kasus, gangguan tumbuh kembang anak bermula dari masalah kesehatan ibu yang tidak terdeteksi sejak awal. Anemia, kurangnya asupan nutrisi, hingga minimnya pemeriksaan rutin menjadi faktor yang sering kali berjalan diam-diam tanpa disadari.
Melalui layanan kesehatan tersebut, tim medis tidak hanya melakukan pemeriksaan kandungan. Mereka juga langsung menyusun langkah intervensi apabila ditemukan indikasi gangguan pertumbuhan janin.
Ada ibu hamil yang diarahkan mengikuti program pemberian makanan tambahan (PMT). Ada pula yang mendapatkan pemantauan intensif untuk mencegah anemia dan komplikasi persalinan.
Dalam rekaman kegiatan layanan itu, suasana pemeriksaan tampak berlangsung hangat dan komunikatif. Dokter terlihat menjelaskan hasil pemeriksaan dengan bahasa sederhana, sementara tenaga kesehatan lain membantu mendampingi pasien satu per satu. Pendekatan personal semacam itu menjadi penting karena sebagian masyarakat masih merasa canggung atau takut memeriksakan kondisi kehamilan secara rutin.
Di ruang konsultasi lain, seorang ibu tampak menggendong anaknya sambil berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kehadiran layanan KIA itu tidak hanya menyasar ibu hamil, tetapi juga memperkuat edukasi kesehatan keluarga secara menyeluruh.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa persoalan stunting bukan sekadar isu medis, melainkan persoalan sosial yang berkaitan dengan akses layanan kesehatan, pengetahuan keluarga, hingga kualitas pendampingan terhadap ibu dan anak.
Di kawasan industri yang terus berkembang seperti Pomalaa, kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan dasar juga meningkat. Karena itu, kolaborasi antara sektor industri dan fasilitas kesehatan publik menjadi salah satu jalan untuk memperluas jangkauan pelayanan masyarakat.
Marwan berharap layanan kesehatan maternal dan neonatal seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar dampaknya semakin luas dirasakan masyarakat.
“Harapan besar kita tentu pelayanan ini bisa terus berlanjut dan diperluas cakupannya. Muara utamanya adalah penurunan angka kematian ibu dan bayi secara signifikan di wilayah ini,” katanya.
Menjelang siang, satu per satu peserta mulai meninggalkan ruang pemeriksaan. Sebagian membawa hasil USG di tangan, sebagian lagi masih berkonsultasi mengenai asupan gizi dan jadwal pemeriksaan berikutnya.
Namun, lebih dari sekadar hasil pemeriksaan medis, mereka pulang dengan sesuatu yang lain: rasa tenang bahwa kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam kandungan mereka kini dijaga dengan perhatian yang lebih baik.
Dari ruang sederhana di Puskesmas Pomalaa itu, masa depan sedang dirawat perlahan—melalui denyut kecil di layar monitor, melalui tangan tenaga kesehatan, dan melalui keyakinan bahwa generasi sehat harus dimulai bahkan sebelum seorang anak membuka matanya untuk pertama kali.(*)































