Oleh: Abdul Saban
Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang panik. Tagihan listrik. Pesan WhatsApp dari atasan berbunyi, “Bisa ke ruangan saya?” Atau saldo rekening yang mendadak lebih banyak angka nolnya ketimbang angka di depannya.
Nyamuk sebenarnya tidak masuk daftar itu. Ukurannya terlalu kecil untuk dianggap sebagai musuh serius. Suaranya cuma ngiiiiing. Kalau sedang beruntung, cukup sekali tepuk, ia sudah tamat. Masalahnya, dia tak datang sendirian, tapi membawa Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuhnya.
Tulisan ini dimulai dari Pewutaa – kecaman Baula, tapi ceritanya tak berhenti di situ. Ia bergerak ke Pomalaa, dan sejumlah desa lain di sekitar wilayah pemberdayaan PT Vale IGP Pomalaa. Melewati puskesmas, ruang USG, dan meja Posyandu. Ada juga cerita tentang ibu hamil, balita, dan stunting, yang sekilas tak ada hubungannya dengan nyamuk. Tapi kalau ditarik cukup jauh, keduanya bertemu di satu titik, yaitu kebiasaan.
Hujan Reda, Masalah Nyamuk Belum Selesai
Hujan baru saja reda di Desa Pewutaa, Kecamatan Baula, kabupaten Kolaka. Aspal masih basah, udara agak dingin, dan orang-orang mulai keluar lagi dari teras rumahnya. Di beberapa sudut jalan, air terlihat menggenang. Drainase tertutup tanah dan sampah, salurannya tersumbat.
Sepintas, pemandangan ini tak ada istimewanya. Genangan kecil, sampah rumah tangga, selokan yang tidak sepenuhnya bersih. Kita semua pernah melihatnya, atau bahkan melewatinya begitu saja. Jika tiba-tiba ada yang berhenti untuk memperhatikannya, akan muncul pertanyaan: memangnya ada apa di situ?

Sejumlah warga Desa Pewutaa, kecamatan Baula mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di Balai Pertemuan desanya. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Promosi Kesehatan yang dilaksanakan oleh PT Vale IGP Pomalaa. FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID
Tidak bagi nyamuk. Genangan, berarti tempat berkembang biak, semacam rumah kontrakan gratis yang tidak pernah menagih sewa dan tidak pernah kena razia.
Dari situlah ancaman demam berdarah dengue (DBD) sering bermula: dari sesuatu yang kecil, biasa, dan terlalu sepele untuk dipikirkan. Tidak ada plang besar yang menandainya. Tak ada sirene dan peringatan, atau tetangga yang tiba-tiba berteriak, “Awas, di situ ada masalah!”
Ada catatan kecil soal nyamuk pembawa DBD, Aedes aegypti. Ia dikenal cukup pemilih, lebih suka air tampungan yang relatif bersih, seperti bak mandi, ember, tempayan, atau wadah bekas berisi air hujan, ketimbang comberan berwana pekat.
Jadi ember di belakang rumah yang tidak pernah dikuras itu, sekalipun kelihatannya bersih dan tidak berbau, sering kali lebih berbahaya daripada selokan yang jorok. Ironi ini cukup menyebalkan: makin rajin kita menampung air bersih, sudah pasti jadu akan tempat kesukaan nyamuk, layaknya hotel bintang lima, kalau tidak dikuras.
Hingga bulan Juni 2026, wilayah kerja Puskesmas Baula mencatat sembilan kasus DBD. Dua pasien harus dirujuk ke rumah sakit, sementara yang lain dinyatakan sembuh. Kasusnya tersebar di beberapa desa: tiga di Puubunga, masing-masing satu di Kolese, Pewutaa, Pundohoo, dan Langori.
Jika dibaca sebagai statistik, sembilan itu kelihatan kecil. Di rapat evaluasi, angka sekecil itu mungkin hanya mendapat anggukan dan lanjut ke agenda berikutnya. Tapi penyakit tidak pernah datang sebagai angka. Ia menjelma menjadi badan yang panas, sebagai ibu yang gelisah menunggui anaknya, sebagai ayah yang cari pinjaman motor untuk membawa keluarganya ke fasilitas kesehatan.
Dua dari sembilan pasien itu bahkan harus dirujuk. Ini berarti, kondisi mereka telah melewati kemampuan penanganan di tingkat fasilitas kesehatan awal. Di balik satu kata “rujukan”, ada perjalanan, biaya, waktu, dan kecemasan yang tidak masuk daftar laporan.
Bahkan pada kata “sembuh” pun ada kerja senyap, keluarga yang begadang, tenaga kesehatan yang memantau, pasien yang akhirnya pulih. Tapi kita tahu, tidak semua cerita DBD berakhir dengan kata itu. Masih ada beberapa pasien yang tidak beruntung justru harus dipulangkan dalam keadaan tanpa nyawa lagi.
Di Tambea, Kasus DBD jadi Kabar Duka
Di Desa Tambea, Kecamatan Pomalaa, pengalaman itu terasa jauh lebih nyata. Pemerintah desa mencatat sekitar 10 warga pernah terdeteksi menderita DBD. Dua di antaranya meninggal dunia.
Dua nyawa dari sebuah desa kecil bukan hal yang bisa dibaca sambil lalu. Di desa, orang saling kenal. Yang meninggal bukan sekadar “pasien nomor sekian”, tapi tetangga yang biasa menyapa di jalan, orang yang duduk satu saf di masjid, atau orang yang anak-anaknya main bersama anak kita.
“Desa Tambea beberapa waktu lalu cukup terdampak DBD sehingga masyarakat memang perlu diberikan pemahaman tentang pola hidup bersih dan sehat,” kata Kepala Desa Tambea, Muslipang Nawir.
Kalimat itu terdengar administratif, tapi maksudnya jelas. Kalau sebuah desa sudah pernah kehilangan, penyuluhan tidak bisa dianggap seremoni. Ada urusan yang, kalau dibiarkan, bisa terulang.
Saat kegiatan promosi Kesehatan PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa berlangsung di Tambea, pemerintah desa menyebut belum menemukan lagi kasus baru. Ini tentu menjadi kabar baik. Tapi tidak adanya kasus baru bukan berarti nyamuk sudah menyerah.
Nyamuk tidak mengenal batas administrasi. Ia tidak tahu mana rumah warga dan mana halaman kantor, tidak tahu mana lingkungan yang baru dapat penyuluhan dan mana yang belum, dan tidak pernah membaca peta wilayah kerja puskesmas. Ia tidak ikut rapat RT, tidak mengisi daftar hadir, tidak peduli spanduk. Ia hanya butuh tempat. Dan manusia, kadang tanpa sadar justru menjadi penyedia tempat bagi jentik.
Fogging: Asap yang Menenangkan, Tapi Bukan Jawaban Akhir
Begitu ada kasus DBD, respon yang paling mudah dibayangkan biasanya fogging. Asap tebal memenuhi halaman, warga diminta menutup pintu dan jendela, anak-anak mengintip dari celah tirai, dan bau khasnya menempel sampai berjam-jam. Nyamuk dewasa yang terkena paparan bisa mati.
Pemandangan itu memberi kesan bahwa sesuatu sedang dilakukan. Padahal, justru disitu jebakannya. Asap yang mengepul terlihat sangat efektif. Nyatanya, DBD tidak selesai hanya karena asap sudah hilang.
Kepala Puskesmas Baula, Sukmawati menjelaskan bahwa fogging memang bagian dari prosedur. “Setiap ditemukan kasus, kami langsung melakukan fogging di sekitar rumah penderita untuk memutus rantai penularan,” ujarnya. Tujuannya jelas: menghabisi nyamuk dewasa yang mungkin sudah membawa virus dan bisa menularkannya ke orang lain di sekitar rumah pasien.
Tapi fogging punya keterbatasan yang jarang diceritakan di teras rumah. Ia hanya efektif membunuh nyamuk dewasa. Telur dan jentik tetap bisa bertahan.

Infografish Fogging by ChatGPT
Untuk memahami kenapa itu jadi masalah, bayangkan siklus hidup nyamuk. Ia bermula dari telur yang ditaruh nyamuk betina di dinding wadah berisi air, tepat di atas permukaan air. Telur itu menetas jadi jentik ketika terendam air, jentik jadi kepompong, lalu keluar sebagai nyamuk dewasa. Seluruh proses ini bisa selesai dalam kurang lebih seminggu sampai sepuluh hari, tergantung kondisi. Yang lebih licin lagi, telur Aedes bisa bertahan kering dalam waktu cukup lama, lalu menetas begitu kembali terendam air.
Jadi setelah asap fogging hilang, apa yang tersisa? Telur yang masih menempel, jentik yang masih berenang, dan hujan berikutnya yang siap menyediakan genangan baru. Fogging membunuh nyamuk yang sudah ada. Ia tidak menjaga agar nyamuk baru tidak lahir.
Karena itu, menurut Sukmawati, fogging harus dibarengi pemberantasan sarang nyamuk lewat penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang berkelanjutan.
“Kasus DBD memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, apalagi saat musim pancaroba. Yang bisa kita lakukan adalah menekan jumlah kasus melalui edukasi dan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.
Pernyataan ini menggeser cara kita memandang persoalan. Kata “menekan” menjadi penting. Ia jujur bahwa DBD tidak akan hilang begitu saja, apalagi di musim pancaroba yang cuacanya labil, sebentar hujan, sebentar panas, dan genangan datang-pergi. Yang realistis adalah menekan angkanya, bukan mengharapkan angka nol yang abadi.
Tantangannya pun bergeser. Bukan lagi bagaimana membunuh nyamuk dewasa, tapi bagaimana mencegah nyamuk lahir. Dan untuk itu, tidak selalu dibutuhkan alat canggih. Kadang cuma ember yang dikuras. Bak mandi yang disikat. Selokan yang tidak disumbat sampah. Botol bekas yang tidak dibiarkan menampung air hujan. Atau seseorang yang bersedia jadi Jumantik, juru pemantau jentik, di rumahnya sendiri.
Masalahnya, hal-hal semacam itu terlalu sederhana untuk dianggap pekerjaan besar. Tidak ada yang bikin baliho untuk seseorang yang menguras ember. Tidak ada yang bertepuk tangan ketika botol bekas dibalik. Padahal di situlah pertempuran sebenarnya berlangsung, di halaman belakang, bukan di layar rapat.
Kita Sebenarnya Sudah Tahu
Kepala Desa Pewutaa, Saniasa, mengatakannya dengan sederhana.
“Pada dasarnya masyarakat cukup memahami pentingnya kesehatan, namun dalam praktiknya perilaku hidup sehat sering diabaikan,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar biasa. Tapi justru di situlah inti masalahnya. Masyarakat bukan tidak tahu. Coba tanya siapa saja di desa mana pun. Sampah harus dibuang pada tempatnya? Tahu. Bak mandi perlu dikuras? Tahu. Air tergenang bisa jadi sarang nyamuk? Tahu. Saluran tersumbat harus dibersihkan? Tahu. Kalau gejala penyakit muncul, lebih baik periksa cepat daripada menunggu parah? Tahu juga.
Pengetahuan sudah ada, bahkan berlimpah. Yang kurang adalah kebiasaan untuk mengerjakannya terus-menerus. Ini sindiran halus untuk kita semua, karena hampir tidak ada yang bisa mengelak. Siapa di antara kita yang tidak punya niat baik tentang bak mandi, tapi bak mandinya belum dikuras juga sampai sekarang?
Di Desa Pesouha, Kecamatan Pomalaa, persoalan yang sama dibahas lagi dalam kegiatan promosi kesehatan PT Vale Indonesia lewat Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Pesannya lurus: pencegahan DBD tidak cukup mengandalkan fogging. Warga didorong menjalankan gerakan 3M, yaitu menguras, menutup, dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas. Selain itu, mereka diajak menjaga sanitasi, membersihkan saluran air, mengelola sampah rumah tangga, dan menyingkirkan tempat yang berpotensi jadi sarang nyamuk.

Karikatur gerakan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) by ChatGPT
Penanggung Jawab Kesehatan IGP Pomalaa, dr. Faturrahman, menekankan bahwa yang harus diberantas adalah sumbernya. “Yang lebih penting adalah memberantas sumbernya, yaitu telur dan jentiknya. Jika jentik dimusnahkan sejak awal, maka perkembangan populasi nyamuk dapat dicegah sehingga tidak menjadi masalah yang lebih besar,” katanya.
Pendekatan yang didorong adalah satu rumah satu Jumantik. Artinya, keluarga tidak hanya menunggu petugas datang memeriksa lingkungan, tapi punya anggota yang rutin memantau ada tidaknya jentik. Semacam satpam kecil untuk urusan ember dan bak air.
Gagasan itu tampak sederhana, tapi justru kata :sederhana” inilah yang menjadikannya sulit. Ia meminta warga bertindak, bahkan ketika tidak ada yang datang mengingatkan. Tanpa spanduk atau mikrofon, tak ada penyuluh-petugas yang berdiri di depan rumah. Hanya keluarga dan lingkungannya sendiri. Di titik itulah kesadaran diuji, bukan di aula saat penyuluhan, tapi di rumah yang sepi tanpa saksi.
Senior Coordinator Safety & Emergency Response PT Vale IGP Pomalaa, Deri Nurjaya Putra merumuskannya dengan kalimat yang cukup nendang. “Jangan sampai hal-hal kecil yang dianggap biasa justru menjadi penyebab munculnya penyakit. Kami ingin membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa,” tuturnya.
Kalimat “membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa” mungkin menjadi salah satu inti dari seluruh program promosi kesehatan ini. Kita sering terjebak membenarkan yang biasa: “Ah, cuma genangan kecil,” “Ah, nanti juga kering sendiri,” “Ah, dari dulu juga begini dan tidak apa-apa.” Padahal kebiasaan yang benar tidak lahir dari satu kali penyuluhan. Ia lahir dari pengulangan, dari tindakan kecil yang dilakukan berkali-kali sampai tidak lagi terasa sebagai kewajiban.
Genangan Jenis Kedua: Yang Tidak Kelihatan dari Luar
Kalau DBD mengajarkan bahwa penyakit bisa bermula dari lingkungan, urusan kesehatan ibu dan anak mengajarkan hal lain: sebagian masalah kesehatan harus dicegah bahkan sebelum seorang anak lahir.
Pagi hari, 6 Mei 2026, di Puskesmas Pomalaa, perhatian beberapa ibu hamil tertuju ke layar ultrasonografi (USG). Di ruang pemeriksaan itu, dokter kandungan memeriksa perkembangan janin. Beberapa ibu menunggu giliran. Sebagian datang untuk memastikan kondisi kehamilan, sebagian lain membutuhkan pemantauan lebih lanjut.
Pemandangan itu bagian dari layanan kesehatan ibu dan anak (KIA) gratis yang digelar PT Vale IGP Pomalaa bersama Puskesmas Pomalaa. Di atas kertas, ini terlihat seperti pelayanan kesehatan biasa: pemeriksaan, USG, konsultasi, pemantauan.
Tapi persoalannya jauh lebih panjang, karena kesehatan seorang anak tidak dimulai ketika ia lahir, tapi ketika ibunya hamil. Bahkan, kalau mau lebih jujur, ia dimulai sebelum itu, dari kondisi tubuh dan gizi ibunya.
Spesialis obstetri dan ginekologi, dr. H. Marwan Abbas menjelaskan bahwa perhatian pada tumbuh kembang anak perlu dimulai sejak kehamilan.
“Kalau perkembangan janin terhambat, bayi berisiko lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Nah, bayi yang lahir BBLR ini berpotensi besar mengalami stunting di kemudian hari. Lewat program ini, kita memotong rantai stunting itu sejak dari dalam kandungan,” ujar Marwan.
Kalimat itu menarik persoalan stunting ke titik yang lebih awal. Selama ini stunting sering dibayangkan sebagai urusan yang baru terlihat ketika tinggi badan anak diukur di Posyandu dan hasilnya tertinggal dari anak seusianya. Padahal akarnya bisa jauh lebih dulu, saat janin belum lahir dan ibu masih mengandung.
Dalam layanan tersebut, pemeriksaan tidak sekadar melihat kondisi kehamilan secara umum. Tim medis juga memantau perkembangan janin dan mencari tanda-tanda kehamilan berisiko. Ini penting karena gangguan kesehatan ibu bisa berjalan tanpa suara. Anemia bisa tidak terasa berat bagi seorang ibu. Asupan gizi yang kurang tidak selalu tampak dari luar. Pemeriksaan kehamilan yang tidak rutin bisa membuat masalah baru ketahuan ketika sudah terlambat. Padahal kondisi-kondisi itu bisa memengaruhi kesehatan ibu dan pertumbuhan janin.
Karena itu, ketika USG menemukan indikasi gangguan pertumbuhan janin, intervensi bisa dilakukan lebih awal. Ada ibu hamil yang diarahkan mengikuti program pemberian makanan tambahan (PMT). Ada yang mendapat pemantauan lebih intensif agar terhindar dari anemia. Ada pula yang perlu tindak lanjut supaya risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan bisa ditekan.
Dengan cara pandang seperti ini, stunting bukan lagi persoalan yang baru muncul di meja Posyandu. Ia punya akar jauh lebih awal. Dan seperti jentik di genangan, akar itu tidak terlihat kalau kita tidak sengaja melihatnya. USG di Puskesmas Pomalaa pada dasarnya alat untuk melihat “genangan” yang tidak kasatmata itu.
Bagi ibu yang selama ini belum pernah punya kesempatan menjalani pemeriksaan lengkap, USG memberi sesuatu yang sederhana tapi penting: kepastian tentang kondisi kehamilannya dan apa yang harus dilakukan berikutnya. Kadang, yang paling menenangkan bukan kabar bahwa semuanya baik-baik saja, tapi tahu persis apa yang perlu dikerjakan besok pagi.
dr. Marwan berharap layanan seperti ini bisa terus berlanjut dan diperluas cakupannya. “Harapan besar kita tentu pelayanan ini bisa terus berlanjut dan diperluas cakupannya. Muara utamanya adalah penurunan angka kematian ibu dan bayi secara signifikan di wilayah ini,” katanya.
Stunting Bukan Cuma Persentase
Stunting sering dibicarakan lewat angka. Berapa anak yang mengalami stunting? Berapa persen prevalensinya? Berapa keluarga yang menjadi sasaran? Angka-angka itu penting untuk mengukur masalah, dan kita memang butuh pengukuran.

Seorang ibu hamil mengikuti pemeriksaan ultrasonografi (USG) gratis dengan pendampingan langsung dokter spesialis kandungan. Layanan ini disedikan oleh PT Vale Indonesia IGP Pomalaa bekerjsama dengan Puskesmas Pomalaa. FOTO: DOK/PT Vale IGP Pomalaa
Tapi bagi sebuah keluarga, stunting tidak hadir sebagai persentase. Ia hadir sebagai anak yang pertumbuhannya harus dipantau lebih ketat, sebagai orang tua yang perlu belajar tentang kebutuhan gizi, sebagai jadwal Posyandu yang tidak boleh dilewatkan, sebagai pertanyaan yang berulang di kepala: makanan yang kuberikan sudah cukup belum, ya? Dan kadang ia hadir sebagai kecemasan ketika berat atau tinggi badan anak tidak berkembang sebagaimana mestinya.
Pencegahan stunting punya kesamaan dengan pencegahan DBD, yaitu sama-sama butuh tindakan rutin. Pada DBD, orang diminta tidak membiarkan jentik berkembang. Pada stunting, keluarga diminta tidak mengabaikan pertumbuhan anak. Pada DBD, lingkungan rumah harus diperhatikan. Pada stunting, kondisi ibu dan anak yang harus diperhatikan. Di keduanya, pengetahuan saja tidak cukup, yang dibutuhkan kebiasaan: membawa ibu hamil memeriksakan kandungan, memantau berat dan tinggi badan anak, memberikan makanan yang sesuai, datang ke Posyandu, memperhatikan tanda gangguan pertumbuhan, dan mencari bantuan tenaga kesehatan ketika ada yang tidak beres.
Di sinilah Posyandu penting. Ia bukan sekadar tempat menimbang balita. Ia titik pertemuan antara informasi kesehatan dan kehidupan sehari-hari keluarga. Di sana pertumbuhan anak dipantau, orang tua bisa berkonsultasi, kader bisa melihat kondisi keluarga, dan kalau ditemukan masalah, intervensi bisa lebih cepat. Dukungan terhadap Posyandu pun menjadi bagian dari rangkaian program kesehatan di wilayah pemberdayaan PT Vale, termasuk bantuan makanan tambahan, dukungan gizi, sanitasi, dan program pencegahan stunting.
Seorang anak tidak tumbuh hanya karena waktu berjalan. Ia tumbuh karena makanan yang masuk ke tubuhnya, karena pengasuhan, lingkungan, perhatian, pemantauan, layanan kesehatan, dan keluarga yang paham apa yang ia butuhkan. Karena itu, stunting tidak bisa dibebankan hanya pada ibu. Ia persoalan keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas. Ayah, ibu, kader Posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan pihak lain di sekitar keluarga punya peran masing-masing. Kalau ada anak yang terlambat tumbuh, menyalahkan satu orang jelas jalan pintas yang tidak adil dan tidak menyelesaikan apa-apa.
Ketika seorang ibu datang ke layanan KIA, yang diperiksa memang tubuhnya, tapi dampaknya menyentuh anak yang sedang tumbuh di dalam kandungan. Ketika balita datang ke Posyandu, yang diukur memang berat dan tinggi badannya, tapi yang sedang dipantau sebenarnya masa depannya. Ketika keluarga menerima makanan tambahan, yang diberikan bukan hanya makanan, tapi juga pesan bahwa gizi anak perlu diperhatikan. Ketika kader dilatih, yang diperkuat bukan hanya keterampilan teknis, tapi juga adanya mata tambahan yang bisa melihat masalah lebih dekat dengan kehidupan warga. Dan ketika masyarakat mendapat edukasi, yang diharapkan berubah bukan sekadar pengetahuan, tapi keputusan sehari-hari: apa yang dimakan anak, kapan anak dibawa ke Posyandu, apakah ibu hamil memeriksakan kehamilan, apakah suplemen yang diberikan benar-benar diminum, apakah keluarga segera mencari pertolongan ketika ada tanda gangguan kesehatan.
Semua keputusan itu tampak kecil. Tapi kesehatan masyarakat memang sering dibangun dari keputusan-keputusan kecil.
Dari Ibu Hamil ke Balita: Rantai yang Tidak Boleh Putus
Dalam kegiatan KIA di wilayah Pomalaa, perhatian tidak hanya diberikan kepada ibu hamil. Anak juga jadi sasaran. Pemeriksaan tumbuh kembang dan edukasi gizi menjadi bagian dari upaya mencegah stunting. Dalam kegiatan lain, dukungan juga diberikan lewat makanan pendamping ASI untuk balita dan screening stunting.
Pendekatan ini penting karena kesehatan ibu dan anak tak bisa dipisa. Kehamilan yang sehat langkah awal, persalinan yang aman jadi tahap berikutnya. Lalu bayi perlu pengasuhan dan asupan yang tepat. Setelah itu, pertumbuhannya harus terus dipantau. Setiap tahap saling terhubung, dan kalau salah satu terputus, risiko masalah naik.
Karena itu, program pencegahan stunting yang baru muncul ketika anak sudah bermasalah jelas tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah rantai pendampingan, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, keluarga, Posyandu, Puskesmas, sampai lingkungan tempat mereka tinggal.
Di titik ini, program “Kolaka Sehat, Bersih, dan Berdaya” mendapat konteks yang lebih luas. Program kesehatan bukan hanya soal mengobati penyakit, tapi juga menciptakan kondisi agar orang tidak mudah jatuh sakit: ibu punya akses pemeriksaan, anak dipantau, keluarga paham gizi, lingkungan tetap bersih, dan fasilitas kesehatan mampu melayani.
Dua Jenis Genangan
Kalau ditarik lebih jauh, ada kemiripan antara DBD dan stunting. Keduanya masalah yang bisa tumbuh pelan-pelan. Jentik berkembang di genangan yang dibiarkan. Gangguan tumbuh kembang manusia berjalan ketika kebutuhan anak tidak terpenuhi dan masalah tidak terdeteksi sejak awal.
Keduanya tidak selalu terlihat di awal. Genangan kecil belum dianggap masalah. Anak yang pertumbuhannya belum sesuai mungkin belum langsung tampak berbeda dari teman-temannya. Keduanya butuh pemantauan: jentik perlu diperiksa, pertumbuhan anak perlu diukur. Dan keduanya butuh tindakan sebelum persoalan membesar.
Perbedaannya ada pada waktu. Nyamuk butuh waktu relatif singkat untuk berkembang di lingkungan yang mendukung, sementara persoalan tumbuh kembang anak berlangsung dalam rentang yang jauh lebih panjang. Tapi keduanya mengajarkan hal yang sama tentang pentingnya perhatian. Sesuatu yang tidak diperhatikan cenderung berkembang tanpa kita sadari.
Mungkin itu sebabnya promosi kesehatan penting. Ia melatih masyarakat untuk melihat sesuatu sebelum jadi masalah, kemampuan yang ternyata jauh lebih langka daripada kemampuan menyelesaikan masalah yang sudah jelas-jelas ada.
Satu Pola untuk Banyak Penyakit
Kalau pada DBD perhatian diarahkan ke lingkungan, pada TBC perhatian diarahkan pada gejala, pemeriksaan, dan pengobatan yang harus tuntas. Pada HIV/AIDS, PT Vale lewat program P2HIV menjalankan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk edukasi, VCT (konseling dan tes) yang sukarela dan rahasia, pemantauan kesehatan, dan dukungan bagi pekerja. Sementara pada kesehatan ibu dan anak, perhatian tertuju pada deteksi risiko kehamilan, pertumbuhan janin, gizi, persalinan, dan tumbuh kembang anak.
Isunya berbeda, tapi pola kerjanya serupa: temukan lebih awal, beri informasi, sediakan layanan, lakukan intervensi, lalu pastikan masyarakat mampu meneruskan kebiasaan itu setelah program selesai.
Bagian terakhir itu yang paling sulit. Karena itu promosi kesehatan tidak cukup hanya mengumpulkan orang di satu ruangan. Ia harus sampai ke rumah, ke meja makan, ke kamar mandi, ke halaman, ke Posyandu, ke keputusan orang tua, dan ke kebiasaan keluarga.
Perusahaan Bisa Datang, Tapi Warga Tetap Tinggal
PT Vale menjalankan berbagai kegiatan kesehatan ini lewat program “Kolaka Sehat, Bersih, dan Berdaya”, kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kolaka. Programnya punya tiga pilar besar.
Pilar pertama, Kolaka Sehat, berfokus pada peningkatan layanan kesehatan masyarakat, gizi ibu dan anak, sanitasi, dan akses air bersih. Pilar kedua, Kolaka Bersih, mencakup pengelolaan sampah, penanaman pohon, dan kampanye perilaku hidup bersih serta hijau. Pilar ketiga, Kolaka Berdaya, diarahkan pada penguatan ekonomi lokal, UMKM, keterampilan, perempuan, dan pemuda.
Di desa, program itu hadir dalam bentuk yang lebih membumi: penyuluhan, pemeriksaan, dukungan untuk puskesmas, penguatan kader, pelatihan tenaga kesehatan, dukungan Posyandu, pemberian makanan tambahan, dan kampanye kesehatan.
Sukmawati mengakui dukungan perusahaan terhadap fasilitas kesehatan di wilayah kerjanya. “PT Vale sudah sangat membantu kegiatan di Puskesmas Baula. Kami mendapat dukungan pembangunan ruang rawat inap, bantuan mobil operasional, obat-obatan, kursi roda, hingga berbagai alat kesehatan yang langsung dimanfaatkan masyarakat,” katanya.
Dukungan seperti itu jelas penting. Tapi perusahaan, sebesar apa pun, punya batas. PT Vale bisa datang ke desa, tenaga kesehatan memberi penyuluhan, Puskesmas bisa melakukan fogging ketika kasus ditemukan. Dokter bisa memeriksa ibu hamil. Kader bisa mengingatkan orang tua agar membawa anak ke Posyandu. Tapi setelah kegiatan selesai, semua kembali ke rumah masing-masing.
Di sanalah keputusan paling penting dibuat. Apakah bak mandi akan dikuras? Apakah barang bekas dibuang atau dibiarkan menampung air? Apakah selokan dibersihkan? Apakah jentik diperiksa? Apakah ibu hamil tetap memeriksakan kehamilannya? Apakah makanan anak diperhatikan? Apakah pertumbuhan balita terus dipantau? Apakah keluarga segera mencari bantuan ketika ada tanda gangguan kesehatan?
Tidak ada perusahaan yang bisa berdiri di setiap halaman rumah. Tidak ada puskesmas yang bisa memeriksa setiap ember setiap hari. Tidak ada dokter yang bisa mendampingi setiap ibu sepanjang waktu. Tidak ada kader yang bisa mengetuk semua pintu setiap pagi. Maka keberhasilan program kesehatan pada akhirnya punya ukuran yang lebih sulit dilihat daripada jumlah kegiatan, yaitu kebiasaan.
Tahu Belum Tentu Peduli, dan Angka Belum Tentu Cukup
Sejak bulan Maret sampai April 2026, kasus DBD dan TBC di wilayah pemberdayaan PT Vale IGP Pomalaa menurun sekitar 1 sampai 5 persen. Pada periode yang sama, penerapan PHBS meningkat sekitar 8 sampai 10 persen.
Angka itu tentu menarik. Tapi ada satu catatan yang justru lebih penting: program ini belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga edukasi masih perlu diperluas. Karena itu, PT Vale menyiapkan pendekatan lebih luas lewat flyer, video kampanye kesehatan, dan penguatan komunikasi berbasis komunitas.
Catatan itu membuat cerita ini lebih realistis, dan patut dihargai. Karena jujur, satu kali penyuluhan dilakukan, tidak serta merta akan mengubah kebiasaan satu komunitas. Apalagi, jika tidak semua warga hadir. Dan kalupun hadir, belum tentu langsung mengubah perilakunya. Tidak semua kebiasaan baru bertahan. Terlebih lagi, tak semua keluarga punya kondisi lingkungan yang sama. Ada rumahnya di dekat saluran air, ada yang punya sumber air jauh sehingga harus menampung banyak air di rumah.
Karena itu promosi kesehatan butuh kesinambungan. Di Ulu Baula, kegiatan promosi kesehatan kembali mengingatkan warga soal DBD dan TBC. Di Puulemo, masyarakat diajak menjalankan 3M Plus sekaligus mengenali gejala TBC dan pentingnya menjalani pengobatan sampai tuntas. Di Watalara, edukasi TBC diperkuat dari tingkat desa lewat promosi kesehatan dan pemeriksaan. Di desa-desa lain, temanya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Pesan di tiap desa memang berbeda, tapi prinsipnya sama. Jangan menunggu penyakit membesar. Jangan menunggu anak mengalami gangguan pertumbuhan baru kemudian diperiksa. Jangan menunggu ada korban baru lingkungan dibersihkan. Pencegahan bekerja paling baik sebelum keadaan menjadi lebih sulit.
Spanduk Sosialisasi Diturunkan, Program Selesai?
Ada yang menarik dari kegiatan promosi kesehatan PT Vale IGP Pomalaa di desa. Ketika penyuluhan berlangsung, semuanya terlihat jelas. Ada materi, narasumber dan warga duduk mendengarkan. Ada pesan tentang 3M, penjelasan soal DBD dan TBC, ajakan menjaga lingkungan, informasi tentang gizi, pemeriksaan, dan konsultasi ibu dan anak.
Tapi begitu kegiatan selesai, suasananya kembali biasa. Warga pulang. Aula kembali kosong. Spanduk akhirnya diturunkan. Mikrofon disimpan. Para penyuluh kembali ke tempat mereka. Lalu kehidupan sehari-hari berjalan lagi, dengan segala kesibukannya: ke ladang, ke pasar, ke kantor, mengurus anak, mengurus dapur.
Di sinilah pesan kesehatan menghadapi ujian yang sesungguhnya. Apakah warga masih ingat jika melihat genangan? Apakah seseorang akan mengambil ember lalu mengurasnya? Apakah ada yang membalik wadah bekas? Apakah saluran air yang tersumbat dibersihkan? Apakah seseorang akan memeriksa bak air beberapa hari kemudian? Apakah ibu hamil tetap datang memeriksakan kehamilannya? Apakah orang tua tetap membawa balita ke Posyandu meski anak terlihat sehat? Apakah berat dan tinggi badan anak dicatat dan diperhatikan?
Perubahan perilaku tidak pernah sesederhana mendengar sebuah pesan. Ia butuh pengulangan sampai pesan itu menjadi tindakan, tindakan jadi kebiasaan, dan kebiasaan jadi bagian dari hidup. Mungkin itu sebabnya perang melawan DBD dan stunting tidak pernah selesai hanya dengan satu program. Ia harus terus dilakukan, karena nyamuk terus berkembang, anak terus tumbuh, ibu terus hamil, hujan akan turun lagi, genangan akan muncul lagi, barang bekas bisa kembali menampung air, selokan bisa kembali tersumbat, dan manusia bisa kembali lupa.
Rumah, Tempat Segalanya Bermula
Pada akhirnya, semua persoalan kesehatan tadi kembali ke tempat yang sama: rumah. Di sanalah ibu hamil menjaga asupan dan memeriksakan kehamilan. Di sanalah bayi mendapat makan. Di sanalah orang tua memperhatikan tumbuh kembang anak. Di sanalah bak mandi berada, sampah rumah tangga muncul, dan selokan bermula. Di sanalah sebagian besar keputusan kesehatan dibuat.
Puskesmas penting. Dokter penting. Perusahaan penting. Pemerintah penting. Posyandu penting. Tapi rumah tetap tempat yang paling lama ditempati manusia. Kesehatan masyarakat tidak cukup dibangun dari luar. Ia harus tumbuh dari dalam keluarga.
Itulah benang merah pesan PHBS dan pencegahan stunting. Keduanya membicarakan hal-hal yang sering luput dari berita karena terlalu biasa: membersihkan, memeriksa, mengukur, makan bergizi, membawa anak ke Posyandu, memeriksakan kehamilan, membuang sampah, menguras bak, mencari pertolongan. Semuanya tampak kecil, tapi kesehatan masyarakat memang dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama-sama dan terus-menerus.
Nyamuk Hanya Butuh Genangan
Di Tambea, pengalaman 10 warga yang terkena DBD dan dua kematian menjadi pengingat bahwa penyakit ini bukan perkara sepele. Di Baula, sembilan kasus sampai Juni 2026 menunjukkan bahwa ancamannya masih ada. Di Pewutaa, genangan dan drainase menjadi bagian dari persoalan lingkungan. Di Pesouha, warga diingatkan bahwa fogging bukan satu-satunya jawaban. Di Pomalaa, ibu hamil diperiksa untuk memastikan pertumbuhan janin dan mendeteksi risiko sejak awal. Di Posyandu, tumbuh kembang anak dipantau. Di sejumlah desa, makanan tambahan, dukungan gizi, sanitasi, dan pencegahan stunting menjadi bagian dari upaya menjaga generasi yang sedang tumbuh.
Semua itu menunjukkan satu hal: pencegahan penyakit sering kali tidak dimulai di rumah sakit. Ia dimulai jauh sebelumnya, di halaman rumah, di kamar mandi, di belakang dapur, di selokan, di tempat sampah, di meja makan, di tangan yang mencuci, di mata yang memeriksa jentik, di buku catatan pertumbuhan anak, di ruang pemeriksaan ibu hamil, dan di keputusan sederhana untuk tidak membiarkan masalah kecil jadi masalah besar.
Mungkin itu sebabnya DBD, TBC, stunting, dan berbagai persoalan kesehatan lain sebenarnya punya satu cerita yang sama. Cerita tentang perhatian, tentang kesediaan melihat sesuatu sebelum terlambat, tentang kebiasaan, dan tentang kesadaran bahwa kesehatan bukan pekerjaan yang selesai setelah seseorang keluar dari puskesmas.
Dokter bisa memberi diagnosis. Bidan bisa memberi pendampingan. Kader bisa memberi pengingat. Pemerintah bisa menyediakan program. Perusahaan bisa memberi dukungan. Tapi keluarga yang menjalankan sebagian besar prosesnya setiap hari.
Nyamuk tidak perlu banyak untuk berkembang. Cukup genangan. Stunting pun tidak muncul dalam semalam, ia persoalan pertumbuhan yang butuh perhatian sejak awal kehidupan. Keduanya mengajarkan pelajaran yang sama: sesuatu yang dibiarkan bisa berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Karena itu, perang melawan DBD mungkin tidak dimulai ketika asap fogging memenuhi jalan desa. Dan perang melawan stunting tidak dimulai ketika seorang anak sudah tampak lebih pendek dari teman-teman sebayanya. Keduanya dimulai jauh sebelumnya. Ketika seseorang membersihkan genangan. Ketika seorang ibu memeriksakan kehamilannya. Ketika seorang ayah memperhatikan makanan anaknya. Ketika kader menimbang balita. Ketika orang tua datang ke Posyandu. Ketika seseorang melihat jentik lalu memilih membasminya. Ketika keluarga sadar bahwa kesehatan anak bukan cuma urusan ibu. Dan ketika masyarakat paham bahwa perilaku sehat tidak boleh berhenti ketika penyuluhan selesai.
Mungkin itulah tantangan terbesar program kesehatan di desa. Bukan membuat orang tahu, karena orang sudah tahu. Tantangannya membuat orang melakukan, lalu mengulanginya, dan terus mengulanginya bahkan ketika tidak ada penyakit yang sedang ramai dibicarakan. Sebab kesehatan sering tidak terasa ketika ia ada, dan baru terasa ketika hilang.
Jadi ukuran paling sederhana dari sebuah program kesehatan mungkin bukan seberapa ramai kegiatannya berlangsung, melainkan apa yang terjadi setelah semua orang pulang. Apakah bak mandi tetap dikuras? Apakah selokan tetap dibersihkan? Apakah jentik tetap diperiksa? Apakah ibu hamil tetap memeriksakan kandungan? Apakah balita tetap dibawa ke Posyandu? Apakah makanan anak tetap diperhatikan? Apakah keluarga tetap mencari pertolongan ketika gejala muncul?
Kalau jawabannya ya, perubahan mungkin sedang tumbuh. Pelan, tidak selalu kelihatan, tapi nyata.
Sebab bagi kita, mungkin itu cuma genangan. Bagi nyamuk, bisa jadi itu rumah. Dan bagi seorang anak, perhatian kecil yang dilakukan keluarganya setiap hari bisa jadi awal dari kehidupan yang jauh lebih sehat.(*)
























