SIBERKITA.ID, KOLAKA — Api berkali-kali muncul di tengah musim kemarau. Sepanjang Agustus 2026, lebih dari 30 kejadian kebakaran di hutan, lahan, dan permukiman warga ditangani tim Emergency Response PT Vale Indonesia Tbk di wilayah Kolaka.
Angka itu menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu bermula dari peristiwa besar. Pada musim ketika vegetasi mengering dan lahan lebih mudah terbakar, satu titik api dapat berkembang cepat dan mengancam kawasan di sekitarnya.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup menunggu api membesar. PT Vale memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan melalui koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan di wilayah Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa sekaligus secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) perusahaan.
Salah satu langkah ditempuh melalui Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Karhutla di Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Selasa (1/9/2026). Kegiatan itu mempertemukan unsur Kementerian Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka, serta pemerintah kecamatan dan desa dari Pomalaa dan Baula.
Di ruang yang sama, pencegahan dibicarakan bukan hanya sebagai urusan pemadaman. Ada persoalan bagaimana mengenali potensi kebakaran, siapa yang pertama menerima laporan, bagaimana informasi diteruskan, dan seberapa cepat sumber daya dapat digerakkan.
Pemerintah desa dan kecamatan berada pada posisi penting dalam mata rantai itu. Kedekatan mereka dengan warga memungkinkan informasi mengenai risiko kebakaran disampaikan lebih cepat, sekaligus membuka ruang bagi deteksi dan pelaporan dini.

Mencegah Sebelum Api Membesar
Project Director IGP Pomalaa PT Vale Indonesia Tbk Mohammad Rifai mengatakan perusahaan mengambil bagian dalam pencegahan karhutla sebagai langkah praktik pertambangan berkelanjutan dan perlindungan terhadap masyarakat serta lingkungan.
“Meski merupakan tanggung jawab lintas sektoral, kami mengambil peran aktif melalui mitigasi, penguatan kesiapsiagaan, dan koordinasi yang dijalankan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH perusahaan,” ujar Rifai, Kamis (3/9/2026).
Menurut Rifai, kolaborasi diperlukan agar potensi kebakaran dapat diantisipasi dan ditangani sedini mungkin.
Pendekatan itu membuat kesiapan pemadam bukan satu-satunya ukuran. PT Vale juga memperkuat pemetaan kawasan rawan, pemantauan kondisi lapangan, jalur komunikasi dan pelaporan, kapasitas personel, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
Tim perusahaan juga menyiagakan personel terlatih dan armada pemadam kebakaran yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan melalui mekanisme penanganan keadaan darurat.
Namun, kesiapan tersebut tetap ditempatkan setelah upaya pencegahan. Edukasi masyarakat menjadi bagian penting, terutama di wilayah yang berbatasan dengan kawasan operasional atau memiliki aktivitas warga yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Sebab, dampak karhutla tidak berhenti pada kawasan yang terbakar. Api dapat mengancam tutupan vegetasi, kesehatan dan keselamatan masyarakat, permukiman, hingga aktivitas sosial dan ekonomi.

Menjaga Kawasan dari Banyak Arah
Mitigasi karhutla PT Vale tidak berhenti di Pomalaa. Perusahaan menyatakan langkah serupa dijalankan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH dengan menyesuaikan tingkat kerawanan serta karakteristik masing-masing wilayah.
Identifikasi area rawan, pemantauan, kesiapan sarana tanggap darurat, prosedur pelaporan dan respons awal, serta koordinasi lintas pihak menjadi bagian dari sistem tersebut.
Pendekatan itu mempertemukan empat kepentingan sekaligus: lingkungan, keselamatan, keberlangsungan operasional, dan perlindungan masyarakat.
Dalam sistem penanggulangan karhutla, tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian. Pemerintah memiliki kewenangan dalam kebijakan dan koordinasi penanggulangan. Masyarakat berperan dalam mencegah serta melaporkan potensi kebakaran. Dunia usaha dapat memperkuatnya melalui sumber daya, kompetensi, pemantauan, edukasi, dan kesiapan tanggap darurat.
Hampir 30 kejadian yang ditangani selama Agustus menunjukkan betapa pentingnya mata rantai tersebut bekerja sebelum api meluas.
Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi Karhutla bukan semata diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, namun yang lebih penting adalah seberapa banyak api yang berhasil dicegah untuk muncul dan seberapa cepat sebuah tanda bahaya dikenali.
Di tengah musim kemarau, jarak antara percikan kecil dan kebakaran besar dapat menjadi sangat pendek. Karena itu, kewaspadaan di tingkat desa, kecepatan pelaporan, kesiapan petugas, dan koordinasi antarlembaga menjadi benteng pertama untuk menjaga hutan, lahan, dan ruang hidup masyarakat.(*)

























