Menu

Mode Gelap
DP3A Kolaka dan BNN Perkuat Benteng Perlindungan Anak dari Ancaman Narkoba Operasi Pekat Anoa 2026: Tak Hanya Tangkap Pelaku, Polres Kolaka Pulihkan Hak Korban Curanmor Penyaringan Calon Rektor USN Kolaka: Petahana Unggul, Tiga Nama Terpilih Di Tengah Tekanan Harga Nikel, PT Vale Bagikan Dividen dan Percepat Hilirisasi Pelabuhan IPK Perkuat Rantai Pasok Industri Nikel PT IPIP  Dari Puskesmas Pomalaa, PT Vale Menjaga Generasi Masa Depan Sejak Dalam Kandungan

Berita Terkini

Terkait Jabatan Sekda, Bupati Kolaka Tetap Kukuh pada Keputusannya

badge-check


 Terkait Jabatan Sekda, Bupati Kolaka Tetap Kukuh pada Keputusannya Perbesar

SIBERKITA.COM, KOLAKA–Bupati Kolaka Ahmad Safei tetap kukuh pada keputusannya  memberhentikan Poitu Murtopo dari jabatan Sekda.

Ia menilai keputusan untuk  memberhentikan Poitu dari jabatan Sekda, dan memutasinya ke jabatan staf ahli bupati sudah sesuai dengan prosedur tanpa ada tendensi lain.

Jika belakangan ada pihak yang menganggap itu tidak sejalan dengan aspirasi atau peraturan perundang-undangan, ia mempersilahkan untuk mengajukan keberatan kepada Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), atau langsung kepada gubernur.

Bahkan, jika masih merasa belum yakin dengan jawaban KASN atau gubernur, ia mendorong masyarakat melakukan gugatan administrasi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Salah seorang koordinator aksi mencoba menenangkan rekan-rekannya yang mulai bertindak anarkis

Penegasan tersebut disampaikan Ahmad Safei di hadapan pengunjukrasa dari Gabungan Masyarakat Adat Tolaki Mekongga “Mepokoaso” yang menggelar aksi di kantor bupati Kolaka, Senin (20/2/2023).

Dikatakan Safei, jika nantinya KASN, gubernur, atau PTUN memerintahkan jabatan Sekda dikembalikan kepada Poitu Murtopo, maka dengan penuh kesadaran ia akan patuh.

“Sebenarnya kami juga merasa bahwa apa yang kami lakukan semua atas izin dan petunjuk KASN dan sudah dikonsultasikan kepada pak gubernur,” tegasnya.

“Tapi jika nantinya keputusan KASN atau keputusan gubernur atau PTUN, apakah keputusan itu mengembalikan pak Poitu (pada jabatan Sekda) atau bagaimana maka saya selaku bupati akan patuh. Tapi sekali lagi semua harus melalui proses hukum yang ada,” tambahnya.

Ditambahkan Safei, sebenarnya ia telah berupaya bermohon kepada gubernur Sultra untuk membuka “ruang” bagi Poitu Murtopo untuk mendapatkan jabatan setara eselon IIa di Pemprov Sultra.

Namun sayang, upaya itu gagal karena hingga kini tidak ada posisi lowong di Pemprov Sultra.

“Jadi saya putuskan, untuk sementara biar staf ahli di Kolaka dulu karena kalau tidak dapat jabatan maka otomatis pensiun,” ungkap Safei.

Salah seorang pengunjukrasa yang terluka

Untuk diketahui, aksi unjuk rasa yang digelar oleh Gabungan Masyarakat Adat Tolaki Mekongga “Mepokoaso” adalah  imbas dari pemberhentian Poitu Murtopo dari jabatan Sekda.

Pengunjukrasa menilai, mutasi terhadap Poitu sarat dengan kepentingan politik, dan cacat hukum administrasi negara.

Dalam pernyataan sikapnya, Gabungan Masyarakat Adat Tolaki Mekongga “Mepokoaso” bahkan menilai adanya perlakuan tidak adil terhadap Poitu Murtopo yang terkesan dipaksa menjalani uji kompetensi.

Padahal menurut undang-undang Nomor 5/2014 tentang ASN, seorang Sekda atau pejabat tinggi pratama yang telah menjabat 5 tahun dapat diperpanjang kembali tapi cukup dengan evaluasi kinerja.

Lebih jauh mereka juga membandingkan beberapa pejabat lain di lingkup Pemda Kolaka yang ternyata tidak melalui proses uji kompetensi meski telah menduduki jabatan lebih dari 5 tahun.

“Nyatanya, kepala Bappeda yang sudah menjabat lebih dari 7 tahun belum melakukan evaluasi kinerja,” ungkap salah seorang koordinator aksi, Jabir Luhukuwi.

Tidak hanya Kepala Bappeda, dalam pernyataan sikap “Mepokoaso” juga mencontohkan kepala dinas perpustakaan dan kearsipan, Djamaluddin Sise tidak pernah menjalani uji kompetensi.

Dalam tuntutannya, Mepokoaso  juga meminta bupati dan Kepala BKPSDM Andi Wahidah membuktikan adanya perintah atau hasil konsultasi tertulis pada KASN dan gubernur yang dijadikan dasar mencopot Poitu Murtopo dari jabatan Sekda Kolaka.

Terkait posisi Sekda yang kini dijabat seorang pelaksana harian, Mepokoaso juga mendesak bupati untuk tidak mengaktifkan Drs Wardi selaku pelaksana harian, sebelum ada perintah atau rekomendasi dari gubernur.

Khusus kepada DPRD, pengunjukrasa mendesak Ketua DPRD Saefullah Halik segera bersikap dengan menggunakan hak interpolasi terhadap bupati.

Massa yang terprovokasi merangsek masuk ke area kantor bupati

Sebelum ditemui oleh bupati, 5 koordinator unjukrasa dari Mepokoaso, yang terdiri dari Tamalaki Wonua Mekongga, Tamalaki Kongga Momea Sultra,
Tamalaki Kinea Mekongga,
Tamalaki Taauno Tolaki Sultra, Forsda Kolaka, dan
Persatuan Mahasiswa Tolaki menggelar orasi di depan gerbang kantor bupati.

Kericuhan sempat terjadi ketika keinginan pengunjukrasa untuk  bertemu langsung bupati tiba-tiba  menerobos barikade pengamanan polisi.

Mereka masuk ke area kantor Pemda, dan mencoba mendatangi kantor BKPSDM.

Meski akhirnya berhasil ditenangkan, suasana di lokasi kantor Pemda Kolaka sempat beberapa kali  memanas, terutama ketika beberapa peserta aksi terlihat berdarah.

Sebagian dari mereka terprovokasi untuk melakukan tindakan anarkis dengan memecahkan beberapa kaca dan properti yang ada di kantor Pemda Kolaka.

Pada dialog antara bupati dengan para pengunjukrasa disepakati 2 keputusan. Dua kesepakatan tersebut yakni, tidak mengaktifkan Drs Wardi sebagai pelaksana harian Sekda, serta akses bagi 13 perwakilan pengunjukrasa untuk menemui pejabat KASN.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Kolaka memberhentikan Poitu Murtopo dari jabatan Sekda Kolaka, dan memutasinya ke posisi staf ahli bupati.

Keputusan itu diambil dengan alasan sejak menjabat Sekda selama lebih dari 9 tahun 8 bulan Poitu Murtopo tidak pernah mengikuti seleksi/uji kompetensi.

Terkait pemberhentian dirinya dari jabatan Sekda, Poitu Murtopo yang dihubungi melalui sambungan telepon akhir pekan lalu menolak berkomentar.(eat)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DP3A Kolaka dan BNN Perkuat Benteng Perlindungan Anak dari Ancaman Narkoba

12 Juni 2026 - 13:37 WITA

Operasi Pekat Anoa 2026: Tak Hanya Tangkap Pelaku, Polres Kolaka Pulihkan Hak Korban Curanmor

10 Juni 2026 - 16:46 WITA

Wakapolres Kolaka Kompol Dr. Mochamad Salman, S.H.,S.I.K.,M.H secara simbolis menyerahkan kendaraan hasil pengungkapan Operasi Pekat Anoa 2026 kepada pemilik sah di Mapolres Kolaka, Rabu (10/6/2026). Selain menangkap pelaku, kepolisian menekankan pentingnya pemulihan hak korban melalui pengembalian barang bukti yang berhasil ditemukan.

DP3A Kolaka Ajak Warga Pelambua Cegah Kekerasan Anak, Perkuat Peran Keluarga dan Lingkungan

9 Juni 2026 - 12:01 WITA

Husmaluddin Pimpin KONI Kolaka, Bidik Kebangkitan Olahraga Daerah

7 Mei 2026 - 13:42 WITA

Polres Kolaka Bongkar Jejak Peredaran Sabu di Dawi-dawi, Seorang Mahasiswa Diamankan

3 Mei 2026 - 21:43 WITA

Trending di Headline