Teknologi tepat guna menjadi pintu masuk mahasiswa untuk membangun kesadaran warga tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
SIBERKITA.ID, KOLAKA — Sampah rumah tangga adalah persoalan yang sering kali terlihat sederhana karena muncul dari aktivitas sehari-hari. Namun, ketika tidak dikelola dengan baik, persoalan kecil dari rumah dapat berubah menjadi masalah lingkungan di tingkat desa.
Di Desa Horongkuli, persoalan itu dibaca secara berbeda oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka. Mereka tidak datang dengan teknologi yang rumit. Mereka justru membawa sebuah tungku sederhana yang dirancang untuk membuat proses pembakaran berlangsung lebih terarah. Namanya rocket stove.
Bagi mahasiswa, alat tersebut bukan tujuan akhir. Ia adalah pintu masuk untuk mengajak masyarakat berbicara tentang sampah—tentang bagaimana memilahnya, bagaimana mengelolanya, dan mengapa kebersihan lingkungan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah desa.
Gagasan itu muncul dari pengamatan mahasiswa selama menjalankan KKN. Kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat menjadi dasar penyusunan program kerja. Teknologi dipilih karena relatif sederhana, dapat dibuat dengan bahan yang mudah diperoleh, serta memungkinkan masyarakat melakukan perawatan secara mandiri.
Prinsip rocket stove bertumpu pada pengaturan aliran udara dan ruang bakar. Dengan rancangan tersebut, proses pembakaran dapat berlangsung lebih optimal dibandingkan pembakaran terbuka.
Tetapi mahasiswa memahami satu hal: teknologi tidak akan banyak berarti jika pengetahuan mengenai penggunaannya tidak ikut ditransfer.
Karena itu, program tersebut disertai edukasi. Warga diperkenalkan pada pemilahan sampah, cara menggunakan alat, aspek keselamatan, serta perawatan rocket stove. Mahasiswa juga memperhatikan keberlanjutan dengan menggunakan komponen yang dapat diganti apabila mengalami kerusakan atau korosi.
Dengan demikian, alat itu diharapkan tidak menjadi artefak yang ditinggalkan mahasiswa setelah masa KKN selesai.
Ilmu yang Pulang ke Masyarakat
KKN pada dasarnya mempertemukan dua dunia. Di satu sisi ada kampus dengan pengetahuan dan gagasan. Di sisi lain ada masyarakat dengan persoalan yang sering kali jauh lebih kompleks daripada yang terlihat dalam teori.
Pertemuan keduanya menuntut mahasiswa untuk tidak sekadar membawa jawaban, tetapi terlebih dahulu memahami persoalan.
Di Horongkuli, persoalan lingkungan menjadi salah satu ruang belajar tersebut.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN USN Kolaka di Desa Horongkuli, Marhamah, S.Pd., M.TESOL, mengatakan inovasi rocket stove merupakan bentuk respons mahasiswa terhadap persoalan lingkungan yang mereka temukan di lapangan.
“Program ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan selama pelaksanaan KKN, tetapi juga dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat dalam memanfaatkan teknologi sederhana untuk membantu pengelolaan sampah,” ujar Marhamah.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan program tidak semata-mata pada apakah sebuah alat berhasil dibuat. Yang lebih penting adalah apakah pengetahuan yang dibawa mahasiswa dapat tinggal dan digunakan masyarakat setelah mereka kembali ke kampus.
Koordinator Desa KKN Horongkuli, Gangka Sabila, mengatakan program tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
“Kami berharap rocket stove ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sebagai salah satu alternatif teknologi sederhana dalam membantu pengelolaan sampah rumah tangga. Selain membuat alatnya, kami juga ingin memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” kata Gangka.
Teknologi yang Tak Boleh Berhenti sebagai Proyek
Di banyak tempat, inovasi teknologi tepat guna menghadapi tantangan yang sama: alat berhasil dibuat, tetapi kemudian tidak digunakan. Mahasiswa KKN USN Kolaka di Horongkuli mencoba mengantisipasi persoalan itu sejak awal.
Cara penggunaan dan perawatan dijelaskan kepada masyarakat. Komponen yang mengalami kerusakan atau korosi dapat diganti. Pengetahuan mengenai alat pun diharapkan tidak berhenti pada mahasiswa yang membuatnya.
Pendekatan tersebut penting karena masa KKN memiliki batas waktu. Mahasiswa akan meninggalkan desa, sementara persoalan lingkungan tetap tinggal di sana.
Kepala Desa Horongkuli, Hiqma, S.PdI, NL.P, mengapresiasi program tersebut. Menurut dia, inovasi mahasiswa dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan desa.
“Kami mengapresiasi program yang dilakukan mahasiswa KKN ini. Semoga inovasi rocket stove dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan dapat terus dimanfaatkan dengan baik setelah kegiatan KKN selesai,” ujar Hiqma.
Harapan kepala desa itu sekaligus menjadi ujian bagi inovasi mahasiswa: apakah rocket stove akan tetap menyala setelah mahasiswa meninggalkan Horongkuli.
Sebab, keberhasilan sebuah program pengabdian bukan hanya ketika program itu berlangsung. Ukurannya justru terlihat setelah para pelaksana pergi.
Menyalakan Kebiasaan Baru
Di balik teknologi sederhana tersebut terdapat gagasan yang lebih besar. Pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari fasilitas besar. Ia dapat dimulai dari rumah, dari pengetahuan sederhana, dan dari kebiasaan yang dilakukan bersama.
Mahasiswa KKN USN Kolaka mencoba mengambil peran pada titik itu. Mereka membawa ilmu dari kampus, tetapi tidak memaksakannya dalam bentuk teknologi yang sulit. Mereka menyesuaikannya dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat. Rocket stove kemudian menjadi pertemuan antara pengetahuan, kreativitas mahasiswa, dan persoalan nyata di desa.
Pada akhirnya, yang diharapkan tinggal di Horongkuli bukan hanya sebuah tungku.
Ada pengetahuan tentang sampah. Ada keterampilan merawat teknologi. Ada kesadaran menjaga lingkungan. Dan, yang paling penting, ada kemungkinan tumbuhnya kebiasaan baru.
KKN mungkin memiliki tanggal mulai dan tanggal selesai. Mahasiswa akan kembali ke ruang-ruang kuliah. Namun, jika pengetahuan yang mereka bawa dapat diteruskan oleh masyarakat, pengabdian tidak benar-benar berakhir ketika mahasiswa meninggalkan desa.
Di Horongkuli, sebuah rocket stove dinyalakan. Bersamaan dengan itu, mahasiswa KKN USN Kolaka mencoba menyalakan sesuatu yang lebih sulit diukur: kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah pekerjaan sehari-hari, dimulai dari tempat yang paling dekat—rumah sendiri.


































