Menu

Mode Gelap
Pemaparan di Lemhanas, Bupati Kolaka Bawa Kartu Beramal ke Panggung Kepemimpinan Nasional Kejari Kolaka Jadi yang Pertama Terapkan Plea Bargain di Sultra Saat 150 UMKM jadi Wajah Ekonomi Lokal Kolaka Masyarakat Adat dan PT Vale Satukan Persepsi Menjaga Investasi di Wonua Mekongga Kuasa Hukum Persoalkan Pendampingan Klien dalam Kasus Dugaan Penipuan Proyek Kementerian di Kendari MIND ID Mengawal PT Vale di Pomalaa, Menjaga Investasi di Tengah Riak Sosial

Bisnis

Nyawa Ditentukan Menit, PT Vale Perkuat Respons Tenaga Medis Darurat Jantung

badge-check


 Nyawa Ditentukan Menit, PT Vale Perkuat Respons Tenaga Medis Darurat Jantung Perbesar

SIBERKITA.ID, KOLAKA — Keterlambatan beberapa menit saja dapat menjadi pembeda antara hidup dan kematian dalam kasus serangan jantung. Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tantangan itu kian nyata akibat jarak dan keterbatasan akses layanan rujukan. Dalam kondisi tersebut, penguatan tenaga medis di garis terdepan menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Upaya itu mulai dijawab melalui pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) yang digelar PT Vale Indonesia IGP Pomalaa bersama Dinas Kesehatan Kolaka di RS Benyamin Guluh, Sabtu (25/4/2026). Pelatihan ini membekali tenaga medis dengan kemampuan penanganan kegawatdaruratan jantung secara cepat, terukur, dan berbasis standar internasional.

Waktu tempuh menuju rumah sakit rujukan dari sejumlah wilayah di Kolaka dapat mencapai 30 hingga 40 menit. Dalam situasi henti jantung, rentang waktu tersebut kerap menjadi fase paling krusial. Tanpa stabilisasi awal yang memadai, peluang keselamatan pasien dapat menurun drastis sebelum tiba di fasilitas rujukan.

Kepala Dinas Kesehatan Kolaka, Sri Raoda Buna, menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan tindakan menjadi kunci utama dalam kondisi kritis. “Tenaga medis harus mampu merespons secara sistematis dan berbasis standar. Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapsiagaan itu,” ujarnya.

Secara nasional, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan tren yang mulai bergeser ke usia produktif. Kondisi ini memperbesar tekanan pada layanan kesehatan, terutama di daerah dengan keterbatasan infrastruktur medis.

Head of HSER IGP PT Vale Indonesia, Riza Ganna, menyebutkan bahwa penguatan kapasitas tenaga medis di fasilitas layanan primer menjadi garis pertahanan pertama yang menentukan. “Stabilisasi awal sangat krusial sebelum pasien dirujuk. Ini menyangkut keselamatan pasien dalam fase paling genting,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana tugas Direktur RSUD Benyamin Guluh Kolaka, Firdaus menambahkan bahwa penguasaan teknik ACLS kini menjadi kebutuhan mendasar di rumah sakit maupun puskesmas. Penanganan kasus kritis menuntut respons cepat, terstruktur, dan berbasis kerja tim.

Kolaborasi pemerintah daerah dan sektor swasta melalui pendekatan ESG menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kesehatan. Namun, tantangan belum sepenuhnya teratasi.

Ketika waktu menjadi penentu, kesiapan di garis terdepan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Program Terpadu PT Vale IGP Pomalaa Perkuat Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS

18 September 2026 - 15:26 WITA

Beasiswa Mota’u, Investasi PT Vale bagi Talenta Muda Morowali

17 September 2026 - 14:43 WITA

Ketika Ketahanan Energi Bergantung pada Kelestarian Air

16 September 2026 - 16:07 WITA

PT Vale Raih Dua Gold Award InTechSEA 2026, Program Pangan dan Kemaritiman jadi Sumber Kemandirian masyarakat 

15 September 2026 - 16:43 WITA

ANTAM Dorong Tambea Kembali Jadi Sentra Teripang, Panen Kedua Capai 12 Ribu Ekor

15 September 2026 - 13:17 WITA

Trending di Bisnis