SIBERKITA.ID, KOLAKA — Jalan panjang itu akhirnya bermuara di satu titik bersejarah. Di hadapan sidang terbuka senat Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Kamis (2/4/2026), Prof. Dr. Nur Ihsan HL dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Bahasa. Bukan sekadar capaian personal, momen ini menjadi simbol perjalanan seorang akademisi yang tumbuh dari dalam kampusnya sendiri—hingga menjadi Guru Besar pertama yang lahir dari rahim USN Kolaka.
Bagi Nur Ihsan HL, pencapaian ini tidak datang secara instan. Ia merupakan akumulasi dari proses panjang, dari ruang-ruang kelas sederhana, diskusi akademik yang tak selalu mudah, hingga pergulatan intelektual yang ditempa waktu.
“Saya tumbuh di sini, berproses di sini. Ini bukan hanya tentang saya, tetapi tentang perjalanan kolektif sebuah institusi,” ujarnya dengan nada reflektif.
Sejak awal kariernya, Nur Ihsan dikenal sebagai akademisi yang menaruh perhatian besar pada pengembangan bahasa dalam konteks pendidikan. Baginya, bahasa bukan sekadar perangkat komunikasi, melainkan medium pembentukan cara berpikir dan karakter.
Jejak itu ia rawat dari tahun ke tahun—mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, hingga terlibat dalam penguatan kelembagaan kampus. Dalam setiap peran, ia tidak hanya membangun kapasitas diri, tetapi juga turut membentuk fondasi akademik USN Kolaka.
Lingkungan kampus yang terus berkembang menjadi ruang bagi Nur Ihsan untuk mengasah gagasan. Diskursus ilmiah yang hidup, dukungan kolega, serta dinamika akademik yang terbuka menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Ia pun tidak menutup mata bahwa perjalanan itu juga ditopang oleh kekuatan yang lebih personal. Keluarga, kata dia, menjadi jangkar yang menjaga konsistensi dan semangatnya dalam menempuh jalan akademik yang panjang.
“Di balik capaian ini ada doa, dukungan, dan pengorbanan keluarga yang tidak terlihat,” katanya.
Momentum pengukuhan Guru Besar, menurutnua, bukanlah garis akhir. Justru sebaliknya, ini adalah titik awal untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar—baik secara keilmuan maupun institusional.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Pendekatan Prakmatik dalam Pembelajaran Bahasa”, ia menegaskan kembali gagasannya tentang pentingnya bahasa sebagai praktik sosial. Pendekatan pragmatik, menurut dia, memungkinkan pembelajaran bahasa menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata.
Di titik ini, perjalanan personal Nur Ihsan bertemu dengan misi yang lebih luas: membangun generasi yang tidak hanya cakap berbahasa, tetapi juga mampu berpikir kritis dan berkarakter.
Kehadirannya sebagai Guru Besar pertama dari internal kampus menjadi penanda bahwa Universitas Sembilanbelas November Kolaka telah memasuki fase baru—fase di mana institusi tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga mampu melahirkan tradisi keilmuan dari dalam dirinya sendiri.
Bagi banyak mahasiswa dan dosen muda, kisah Ihsan kini menjadi cermin bahwa jalan akademik, betapapun panjang dan berliku, tetap dapat ditapaki hingga puncaknya—selama dijalani dengan ketekunan, integritas, dan keyakinan.(*)





























