Menu

Mode Gelap
Menjaga Desa dari Ancaman Sunyi: Upaya PT Vale IGP Pomalaa Menumbuhkan Budaya PHBS di Wilayah Pemberdayaan Husmaluddin Pimpin KONI Kolaka, Bidik Kebangkitan Olahraga Daerah Polres Kolaka Bongkar Jejak Peredaran Sabu di Dawi-dawi, Seorang Mahasiswa Diamankan DPO Penganiayaan Maut di Kolaka Ditangkap, Polisi Dalami Keterlibatan Pelaku Lain Kunjungan Kerja di Sultra, Wakapolri Resmikan Jembatan Dhira Brata di Kolaka Dari Laboratorium USN Kolaka, Asa Pendidikan Unggul Diuji

Bisnis

Menjaga Desa dari Ancaman Sunyi: Upaya PT Vale IGP Pomalaa Menumbuhkan Budaya PHBS di Wilayah Pemberdayaan

badge-check


 Menjaga Desa dari Ancaman Sunyi: Upaya PT Vale IGP Pomalaa Menumbuhkan Budaya PHBS di Wilayah Pemberdayaan Perbesar

SIBERKITA.ID, KOLAKA — Pagi itu langit Desa Pewutaa masih menyisakan jejak hujan malam sebelumnya. Di beberapa sudut jalan desa, air tampak menggenang di sela drainase yang tertutup tanah dan tumpukan sampah rumah tangga. Sepintas terlihat biasa. Namun di balik genangan kecil itulah ancaman penyakit sering kali bermula—diam-diam tumbuh, lalu menyebar ke lingkungan sekitar.

Di tengah kondisi itu, aula desa mulai dipenuhi warga. Para ibu rumah tangga, kader kesehatan, aparat desa, hingga tokoh masyarakat duduk berdampingan mengikuti sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang digelar PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Sabtu (9/5/2026).

Bagi sebagian orang, kegiatan semacam ini mungkin sekadar penyuluhan rutin. Namun bagi masyarakat desa yang hidup berdampingan dengan tantangan sanitasi dan ancaman penyakit menular, edukasi kesehatan menjadi sesuatu yang jauh lebih penting: ikhtiar menjaga kualitas hidup.

“Pada dasarnya masyarakat cukup memahami pentingnya kesehatan, namun dalam praktiknya perilaku hidup sehat sering diabaikan,” ujar Kepala Desa Pewutaa, Saniasa.

Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi menggambarkan persoalan mendasar yang dihadapi banyak wilayah: kesadaran belum selalu berbanding lurus dengan kebiasaan.

Di musim hujan, persoalan tersebut menjadi semakin nyata. Genangan air yang terbentuk akibat saluran drainase tersumbat menciptakan ruang ideal bagi berkembangnya nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan memperburuk situasi. Sementara di sisi lain, penyakit seperti tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman laten yang membutuhkan perhatian serius.

Senior Coordinator Occupational Health & Industrial Hygiene Analyst PT Vale IGP Pomalaa, dr. Aditya Hafria Vanani, mengatakan bahwa peningkatan curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat risiko penyebaran DBD semakin tinggi.

“Perilaku hidup masyarakat, terutama menyangkut sanitasi dan membuang sampah sembarangan, menjadi awal munculnya DBD. Jika satu anggota masyarakat terkena DBD, potensinya dapat menyebar ke anggota masyarakat lainnya,” jelasnya.

Bagi PT Vale, kesehatan masyarakat bukan sekadar program pendukung, melainkan bagian penting dari tanggung jawab keberlanjutan perusahaan. Melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG), perusahaan berupaya memastikan pembangunan industri berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.

“Kehadiran PT Vale juga memiliki kewajiban mengembangkan masyarakat, mulai dari sektor sosial, lingkungan, dan ekonomi,” kata dr. Aditya.

Karena itu, program promosi kesehatan terus digencarkan di wilayah pemberdayaan perusahaan, mencakup Kecamatan Pomalaa, Baula, Wundulako, hingga Tanggetada. Desa Pewutaa sendiri menjadi desa kelima yang mendapat kunjungan sosialisasi kesehatan tahun ini.

Bagi Camat Baula, Syarial Darmawan, pendekatan semacam itu penting dilakukan secara konsisten. Menurutnya, PHBS bukan sekadar ajakan menjaga kebersihan, melainkan fondasi utama pencegahan penyakit di tingkat masyarakat.

“PHBS adalah upaya dini pencegahan penyebaran penyakit melalui perilaku hidup sehat dan bersih, baik secara individu maupun dalam komunitas masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti persoalan yang kerap dianggap sepele, namun berdampak besar terhadap kesehatan lingkungan: drainase yang ditutup warga dan dijadikan jembatan kecil menuju rumah.

Akibatnya, aliran air tidak berjalan lancar dan menciptakan genangan yang menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk.

“Saluran drainase ini sebenarnya dibangun oleh pemerintah, namun tidak dirawat dengan baik oleh masyarakat,” katanya.

Persoalan kesehatan lingkungan memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembangunan fisik. Infrastruktur tanpa kesadaran kolektif akan selalu menyisakan celah persoalan baru. Di titik itulah edukasi menjadi penting—mengubah pola pikir sebelum mengubah kondisi.

Dalam sesi sosialisasi, Kepala Puskesmas Baula, Sukmawati, SKM., MKM., menyampaikan materi mengenai PHBS dalam tatanan rumah tangga. Mulai dari pentingnya mencuci tangan, menjaga kebersihan air, mengelola sampah, hingga memastikan lingkungan rumah bebas dari potensi sarang nyamuk.

Pesan-pesan itu terdengar sederhana. Namun jika dilakukan secara konsisten oleh setiap keluarga, dampaknya dapat sangat besar terhadap kualitas kesehatan masyarakat.

Hasil evaluasi program promosi kesehatan PT Vale menunjukkan tanda-tanda perubahan positif. Berdasarkan data Maret hingga April 2026, angka kasus DBD dan TBC di wilayah binaan perusahaan menurun sekitar 1 hingga 5 persen. Sementara penerapan PHBS meningkat antara 8 hingga 10 persen.

Meski demikian, perusahaan menyadari perubahan perilaku sosial tidak dapat dibangun dalam waktu singkat.

“Promosi kesehatan ini belum menyasar seluruh warga. Jadi memang harus lebih masif lagi dilakukan supaya dampaknya lebih terasa,” ujar dr. Aditya.

Karena itu, PT Vale mulai menyiapkan pendekatan edukasi yang lebih luas melalui pembagian flyer, video kampanye kesehatan, serta penguatan komunikasi berbasis komunitas agar pesan-pesan PHBS dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat rumah tangga.

Di luar program promosi kesehatan, perusahaan juga terus mendukung kegiatan Posyandu melalui bantuan makanan tambahan, dukungan gizi, sanitasi, dan program pencegahan stunting.

Bagi masyarakat Pewutaa, kehadiran program kesehatan seperti ini bukan hanya tentang penyuluhan sesaat. Ada rasa diperhatikan, didampingi, sekaligus diajak tumbuh bersama.

Di akhir kegiatan, warga mulai meninggalkan aula desa satu per satu. Di luar, sisa air hujan masih tampak mengalir perlahan di sisi jalan. Barangkali perubahan besar memang selalu dimulai dari hal-hal kecil: membersihkan saluran air, membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan, atau mengingatkan tetangga untuk menjaga lingkungan tetap bersih.

Karena kesehatan masyarakat, pada akhirnya, bukan hanya urusan fasilitas medis atau tenaga kesehatan semata. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari—dari kesadaran sederhana bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan bersama.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Husmaluddin Pimpin KONI Kolaka, Bidik Kebangkitan Olahraga Daerah

7 Mei 2026 - 13:42 WITA

Polres Kolaka Bongkar Jejak Peredaran Sabu di Dawi-dawi, Seorang Mahasiswa Diamankan

3 Mei 2026 - 21:43 WITA

HUT 23 Tahun Luwu Timur: Harmoni Pertumbuhan, Industri, dan Keberlanjutan dari Timur Indonesia

3 Mei 2026 - 12:40 WITA

Menavigasi Tantangan, Menghadirkan Dampak: Perjalanan ESG PT Vale Menguat pada 2025

1 Mei 2026 - 15:19 WITA

Professional Assessment Ceria Wolo Gaungkan REHAT di Babarina

1 Mei 2026 - 14:15 WITA

Trending di Bisnis