Menu ✖

Mode Gelap
Jejak Nikel di Pomalaa, Tanah Merah yang Tak Pernah Selesai Dibaca Zona Hitam di Tanah Merah: Industri Nikel, Ancaman Narkoba dan Perebutan Masa Depan Generasi Muda Nyamuk Hanya Butuh Genangan, Manusialah yang Menyediakannya Lestarikan Budaya Lokal Lewat Olahraga, Patonro Jadi Identitas 7.092 Pelari Pemaparan di Lemhanas, Bupati Kolaka Bawa Kartu Beramal ke Panggung Kepemimpinan Nasional Kejari Kolaka Jadi yang Pertama Terapkan Plea Bargain di Sultra

Feature

Jejak Nikel di Pomalaa, Tanah Merah yang Tak Pernah Selesai Dibaca

badge-check


 BIJIH YANG BERLAYAR: Dari tanah merah Pomalaa, bijih nikel mulai meninggalkan pesisir Sulawesi menuju Jepang pada akhir 1930-an. Pulau Maniang dan Pulau Lemo menjadi bagian dari awal kisah pertambangan ini, ketika nikel masih diangkut sebagai bijih mentah—tanpa industri pengolahan di tanah asalnya. Sekitar 150 ribu ton bijih tercatat dikapalkan pada 1938–1941, membuka babak panjang perjalanan nikel Pomalaa dari perut bumi menuju dunia. FOTO byChatGPT Perbesar

BIJIH YANG BERLAYAR: Dari tanah merah Pomalaa, bijih nikel mulai meninggalkan pesisir Sulawesi menuju Jepang pada akhir 1930-an. Pulau Maniang dan Pulau Lemo menjadi bagian dari awal kisah pertambangan ini, ketika nikel masih diangkut sebagai bijih mentah—tanpa industri pengolahan di tanah asalnya. Sekitar 150 ribu ton bijih tercatat dikapalkan pada 1938–1941, membuka babak panjang perjalanan nikel Pomalaa dari perut bumi menuju dunia. FOTO byChatGPT

Tanah merah Pomalaa, di pesisir Kolaka, Sulawesi Tenggara, telah lebih dari seabad menyimpan nikel. Sejak ahli geologi Belanda E.C. Abendanon mencatat keberadaannya di tahun 1909, kawasan ini terus dibaca ulang oleh orang-orang dengan kepentingan berbeda: perusahaan yang mencari cadangan, kapal yang mengangkut bijih, kekuatan perang yang membutuhkan bahan baku, hingga negara yang kemudian berusaha mengolahnya sendiri.

Oleh: Abdul Saban

Setiap Rabu sore, sekitar pukul 17.00, sekelompok warga Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, berkumpul untuk belajar membaca tanah.

Itu sekitar tahun 2005. Mereka belum bisa membedakan lapisan bijih, apalagi menentukan kadar nikel yang layak ditambang. Pelatihnya tenaga berpengalaman dari PT INCO, namanya kini berubah menjadi PT Vale Indonesia Tbk, sebuah perusahaan pengolahan nikel multinasional di Sorowako, Sulawesi Selatan.

Sekitar sepuluh orang warga Pomalaa ini dibekali ilmu standar membaca kadar bijih yang merujuk pada kebutuhan pabrik PT Aneka Tambang, dengan kadar nikel sekitar 2,5 persen. Kelas berakhir pukul 20.00.

“Kita memang mulai dari nol. Tahun 2005 itu orang-orang yang kita libatkan benar-benar belum mempunyai pengalaman,” kata Hasmir, Eksternal Relations Specialist PT Vale IGP Pomalaa.

Hasmir berada di Pomalaa sejak eksplorasi PT INCO, mulai tahun 2003. Dari tim awal yang beranggotakan sepuluh orang, hanya empat yang berasal dari Sorowako. Selebihnya warga Pomalaa yang dibina dari awal.

Dua puluh tahun kemudian, sebagian dari mereka telah berpencar. Ada yang bertahan di industri tambang, ada pula yang menempati posisi penting di perusahaan maupun pemerintahan desa.

Kisah mereka hanya bagian kecil dari cerita yang jauh lebih tua. Sejak geolog Belanda mencatat nikel di kawasan ini pada awal abad ke-20, tanah merah Pomalaa berkali-kali dibaca ulang. Tanahnya tetap sama. Yang berubah adalah pengetahuan manusia tentang isinya.

Bijih yang Berlayar

Pada 1909, geolog Belanda E.C. Abendanon mencatat keberadaan bijih nikel di Pomalaa. Catatan itu menjadi salah satu penanda awal ketika kekayaan mineral kawasan ini mulai dibaca sebagai sumber daya bernilai ekonomi.

Laporan Report on the Survey for Nickel Smelter Construction in Pomalaa Area, yang disusun tim survei OTCA Jepang pada 1972, mencatat bahwa pada 1935 perusahaan tambang Belanda Oost Borneo Maatschappij (OBM) memulai eksplorasi yang lebih terarah. Mereka menggandeng perusahaan Jerman Fried. Krupp Industriebau untuk survei terperinci.

Dari sana Pomalaa masuk ke arus industri nikel dunia. Menurut catatan yang sama, pada 1939–1941 sekitar 130.000 ton bijih dari Pomalaa dikirim ke Jepang.

JEJAK PENGOLAHAN NIKEL POMALAA. Perjalanan nikel Pomalaa dari penambangan dan pengapalan bijih mentah pada era kolonial, pengembangan fasilitas pengolahan pada masa pendudukan Jepang, hingga tumbuhnya industri pengolahan di bawah pengelolaan Indonesia. Jejak ini merekam perubahan Pomalaa dari sekadar sumber bijih menjadi salah satu kawasan penting dalam sejarah industri nikel Indonesia. INFOGRAFIS by CANVA

JEJAK PENGOLAHAN NIKEL POMALAA: Perjalanan nikel Pomalaa dari penambangan dan pengapalan bijih mentah pada era kolonial, pengembangan fasilitas pengolahan pada masa pendudukan Jepang, hingga tumbuhnya industri pengolahan di bawah pengelolaan Indonesia. Jejak ini merekam perubahan Pomalaa dari sekadar sumber bijih menjadi salah satu kawasan penting dalam sejarah industri nikel Indonesia. INFOGRAFIS by CANVA

Perang kemudian datang. Pada 1942 Jepang menduduki Pomalaa dan tambang dikelola Sumitomo Mining di bawah pemerintahan militer. Laporan OTCA menyebut sekitar 120.000 ton bijih dikapalkan ke Jepang selama pendudukan. Sekitar Juli 1942 mereka juga membangun fasilitas pengolahan nikel matte, dirancang mengolah 70.000 ton bijih per tahun untuk menghasilkan sekitar 8.920 ton matte. Pabrik itu hanya sempat beroperasi singkat sebelum perang menghantam infrastruktur tambang.

Setelah Jepang menyerah di tahun 1945, tambang tak serta-merta hidup kembali. Menurut buku sejarah PT Aneka Tambang (Antam), pada 1947–1950 Freeport Sulphur Company dari Amerika Serikat dan OBM dari Belanda sama-sama mencoba menghidupkan kembali tambang Pomalaa–Tanjung Pakar. Keduanya gagal karena persoalan keamanan.

Titik balik datang pada pertengahan 1950-an. Sekitar 1956–1957, NV Pertambangan Toraja (NV Perto) membuka kembali kegiatan tambang dengan memanfaatkan timbunan bijih peninggalan masa Belanda dan Jepang. Menjelang akhir 1960, perusahaan ini diambil alih pemerintah. Lalu tahun 1962, Jepang hadir Kembali di Pomalaa, kali ini bukan sebagai penjajah, melainkan mitra teknologi. Berjalan di tahun 1968, pengelolaan tambang masuk ke PN Aneka Tambang, yang pada tahun 1974 berkembang menjadi PT Aneka Tambang (Persero).

Tahap berikutnya adalah pengolahan. Indonesia dan Jepang menyusun dasar kerja sama pembangunan pabrik feronikel pada 1970, dan pembangunan fisik dimulai Oktober 1973. Yasushi Oiwa, dalam laporan teknis di Journal of the Mining and Metallurgical Institute of Japan (1977), menguraikan pabrik itu menggunakan teknologi rotary kiln–electric furnace untuk menghasilkan feronikel berkadar karbon rendah.

Konstruksinya rampung di bulan November 1975. Setahun setelahnya, FeNi I Pomalaa memasuki operasi komersial. Kemudian diresmikan Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 23 Oktober 1976.

Peresmian itu menandai perubahan penting. Setelah puluhan tahun dikenal sebagai penghasil bijih untuk dikirim ke luar negeri, untuk pertama kalinya pengolahan nikel skala industri berdiri permanen di Pomalaa.

Dari Sorowako ke Pomalaa

Jejak PT Vale Indonesia di Sulawesi bermula di Sorowako. Tahun 1966, tim eksplorasi yang dipimpin Beni Wahju dan Hitler Singawinata menelusuri kawasan sekitar Sungai Larona untuk memastikan potensi nikel laterit. Dua tahun kemudian, PT International Nickel Indonesia, atau PT INCO, berdiri dan menandatangani Kontrak Karya dengan Pemerintah Indonesia.

Dari eksplorasi, langkah bergeser ke pengolahan. Di tahun 1970, sampel bijih Sorowako dikirim ke fasilitas penelitian Inco di Port Colborne, Kanada. Hasil pengujian menunjukkan bijih itu dapat diolah melalui proses peleburan reduksi. Pembangunan fasilitas dimulai sekitar tahun 1973, pabrik diresmikan empat tahun setelahnya. Lalu produksi komersial bergulir di tahun 1978.

Sejak saat itu, Sorowako menjadi tempat PT INCO menimba pengalaman panjang dalam menambang dan mengolah nikel saprolit melalui teknologi pirometalurgi. Infrastruktur pendukung, termasuk pembangkit listrik tenaga air, dibangun untuk menopang operasi. Catatan sejarah perusahaan kemudian merekam pergantian nama menjadi PT Vale Indonesia pada 2011, sementara akar pengusahaannya tetap bertumpu pada Kontrak Karya 1968.

Pengalaman lebih dari setengah abad ini yang dibawa perusahaan mengembangkan wilayah lain di Sulawesi, termasuk Sulawesi Tenggara.

Namun, Pomalaa menghadirkan persoalan yang berbeda. Jika Sorowako kaya saprolit, Pomalaa justru menyimpan limonit dalam jumlah besar. ”Di Sorowako, saprolit lebih banyak. Di sini kondisinya sebaliknya, komposisi limonit lebih banyak daripada saprolit,” kata Mohammad Rifai, Head of PT Vale Indonesia Growth Project Pomalaa.

Perbedaan karakter bijih itu membuat teknologi yang puluhan tahun dipakai di Sorowako tak bisa begitu saja diterapkan di Pomalaa. Limonit menuntut pendekatan pengolahan lain.

Titik temunya muncul lewat kerja sama PT Vale dengan Zhejiang Huayou Cobalt. Pada 2022, keduanya mengembangkan fasilitas pengolahan limonit dengan teknologi High Pressure Acid Leach atau HPAL. Teknologi ini memungkinkan limonit diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), produk antara yang menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.

Dengan demikian, hubungan Sorowako dan Pomalaa tidak berhenti pada kedekatan geografis dalam satu pulau. Sorowako adalah tempat PT Vale membangun pengalaman mengolah nikel laterit. Pomalaa menjadi ruang pengalaman yang bersua dengan jenis bijih dan perbedaan kebutuhan industri.

Perubahan itu pun berlangsung dalam kerangka hukum yang berbeda dari masa awal perusahaan. Setelah perjalanan panjang sejak Kontrak Karya 1968, melewati perubahan dan perpanjangan kontrak serta pergantian nama menjadi PT Vale, pemerintah pada 13 Mei 2024 menerbitkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) kepada perusahaan. Berdasarkan laporan tahunan PT Vale, izin itu memperpanjang operasi hingga 28 Desember 2035.

Data resmi PT Vale mencatat wilayah konsesinya seluas sekitar 118.017 hektar, tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Sekitar 24.752 hektar di antaranya berada di Sulawesi Tenggara.

Maka, ketika PT Vale hadir di Pomalaa, mereka tidak yang datang bukanlah perusahaan yang memulai sejarah pertambangan dari nol. Mereka datang dengan pengalaman panjang dari Sorowako, dipertemukan dengan sejarah nikel Pomalaa yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

Di Sorowako, pengalaman itu dibangun lewat saprolit dan pirometalurgi. Di Pomalaa, pengalaman tersebut diuji oleh limonit dan HPAL.

Dari sinilah perjalanan nikel Sulawesi memasuki babak baru: dari bijih yang puluhan tahun diolah menjadi feronikel dan matte, menuju produk antara yang terhubung dengan industri baterai kendaraan listrik.

Tanahnya berbeda. Bijihnya berbeda. Teknologinya pun berbeda. Namun ada satu benang merah: pengalaman panjang mengolah nikel di Sorowako menjadi bekal untuk membaca kembali potensi nikel di Pomalaa.

Limonit yang Lama Menunggu

Tungku PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan, bekerja khusus untuk saprolit, lapisan bawah laterit yang kadar nikelnya lebih tinggi. Di lapisan atasnya ada limonit, dan di Pomalaa jumlahnya justru lebih besar.

“Di Sorowako saprolit lebih banyak. Di sini kondisinya sebaliknya, komposisi limonit lebih banyak daripada saprolit,” kata Mohammad Rifai, Head of PT Vale IGP Pomalaa. Pengalaman panjang mengolah saprolit tak bisa dipindahkan begitu saja.

“Dulu limonit belum bisa diolah secara ekonomis. Di Sorowako limonit dibuang karena yang diambil saprolit. Bayangkan, jutaan ton setiap tahun limonit dibuang di Sorowako,” ujarnya.

Mencari cara mengolahnya tidak mudah. Kerja sama dengan Sumitomo dari Jepang tidak menemukan kecocokan karena karakter limonit yang mereka gunakan berbeda dengan limonit Pomalaa. “Setelah studi itu, jujur saja, ada yang gagal ketika membuat pilot project,” kata Rifai.

Titik terang muncul ketika Vale bertemu Huayou. Pengujian berhasil pada November 2022, lalu berkembang menjadi desain tambang, fasilitas pengolahan, pengelolaan air, aspek lingkungan, hingga fasilitas pendukung. Teknologi yang dipilih adalah High Pressure Acid Leach (HPAL). Jika tungku menghasilkan feronikel, HPAL menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), produk antara dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

“Dulu produk nikel itu lebih banyak ferronickel dan matte. Sekarang sudah bertransformasi lagi menjadi seperti MHP karena kebutuhan dasarnya sudah berbeda,” kata Rifai.

Tiga Kepentingan, Satu Proyek

Pada 27 November 2022, IGP Pomalaa memasuki fase pengembangan bersama mitra. PT Vale Indonesia mengembangkan tambang, sedangkan fasilitas HPAL dibangun melalui PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI) bersama Zhejiang Huayou Cobalt dari China dan Ford dari Amerika Serikat.

Huayou memegang 73,20 persen saham KNI dan membawa teknologi HPAL. Vale memegang 18,30 persen dan membawa sumber daya mineral serta pengalaman menambang. Ford memegang 8,50 persen dengan kepentingan pada rantai pasok kendaraan listrik. Vale punya opsi menaikkan kepemilikan hingga sekitar 30 persen setelah fasilitas HPAL selesai dan beroperasi.

“Kita tidak bisa hanya melihat dari sisi tambangnya. Pengolahannya membutuhkan teknologi dan investasinya juga sangat besar. Karena itu diperlukan kerja sama dengan pihak yang mempunyai teknologi dan kemampuan investasi,” kata Ridwan Setiawan, Project Manager Joint Venture PT Vale IGP Pomalaa.

Proyek sebesar ini membawa persoalannya sendiri. Perubahan Harga Patokan Mineral harus dihitung ulang bersama para mitra karena menyangkut biaya, harga, dan tingkat pengembalian investasi. Di lapangan, pembangunan dan produksi berjalan bersamaan. Bijih harus dikirim untuk uji coba mitra ketika jalan, sediment pond, dan bengkel alat berat belum seluruhnya rampung.

“Kita harus berproduksi, tetapi pada saat yang sama kita juga harus melakukan konstruksi,” kata Ridwan. Produktivitas belum optimal, dan air menjadi tantangan lain. “Beberapa kali kita mengalami tantangan terkait air,” ujar Rifai.

Jeda 2008

Perkembangan industri di Pomalaa tak berjalan paralel. Kerja sama pengolahan dan penambangan pada periode sebelumnya, yang bermula dari dorongan pemerintah pusat masa Presiden Megawati Soekarnoputri, berhenti tahun 2008. Menurut Hasmir, desain pengembangan saat itu dinilai belum sesuai harapan pemerintah daerah, yang menginginkan pembangunan pabrik pengolahan, bukan sekadar kerja sama pengolahan bijih dengan Antam.

Bagi warga yang sudah dibina, penghentian itu berarti kehilangan kesempatan. “Teman-teman lokal yang sudah dibina dan seharusnya masuk ke INCO akhirnya terganjal karena kegiatan berhenti pada 2008,” kata Hasmir.

Ketika izin usaha pertambangan baru bermunculan sekitar 2009–2010, banyak dari mereka mengisi pekerjaan grade control di berbagai tambang. Sebagian kelak menduduki posisi penting di perusahaan maupun pemerintahan desa.

Ada pula pekerjaan yang justru berjalan ketika tambang berhenti. Pada 2007, PT INCO mulai mereklamasi kawasan yang dibuka sejak 2005, salah satunya Zona 3 atau Bukit Nirwana seluas sekitar sembilan hektar. Bersama Karang Taruna di desa-desa sekitar, termasuk Hakatutobu, warga dilatih membuat kompos sesuai standar perusahaan dan diberi target wilayah penghijauan masing-masing.

“Nanti kelihatan kelompok mana yang komposnya bagus dan mana yang masih perlu diperbaiki,” kata Hasmir.

Tanah yang dulu dibuka untuk tambang mulai ditanami kembali.

Dari Petani Menjadi Operator

Ketika kegiatan pertambangan PT Vala di Pomalaa kembali bergerak, tantangannya bukan hanya teknologi dan investasi, melainkan budaya kerja.

“Teman-teman kita di sini sebagian berasal dari petani dan pekebun,” kata Rifai. Ia teringat pengalaman di Sorowako sekitar dua dekade lalu. “Kalau petani atau nelayan, mau masuk jam enam, tujuh, atau delapan mungkin masih bisa. Tetapi di perusahaan, kalau masuk jam tujuh ya harus jam tujuh,” terang Rifai.

Hal sederhana seperti sepatu keselamatan pun pernah menjadi soal. Para sopir semula merasa berat mengenakannya, sebelum memahami bahwa aturan itu bagian dari budaya kerja industri.

Dalam pengembangan IGP Pomalaa, PT Vale melatih operator dump truck dari masyarakat lokal, memberi beasiswa ke Universitas Sembilanbelas November Kolaka, dan mengirim sebagian warga Kolaka bekerja di Weda, Maluku Utara. “Tujuannya supaya tidak ada lagi alasan bahwa orang Kolaka tidak punya pengalaman atau tidak bisa dikembangkan,” ujar Rifai.

Sampai ke Sawah dan Dapur

Perubahan yang paling mudah dirasakan warga tak selalu datang berupa alat berat atau bangunan pabrik.

Di Desa Puubenua dan Puuroda, Kecamatan Baula, perubahan berlangsung di sawah. Petani mengembangkan padi dengan metode System of Rice Intensification (SRI) organik melalui program pemberdayaan masyarakat PT Vale. Watno, petani di Puuroda, semula ragu. Empat tahun kemudian, keraguannya berganti persoalan lain: permintaan beras organik yang harus ia layani.

PANEN PERDANA: Management PT Vale Indonesia bersama jajaran pemerintah daerah Kabupataen Kolaka memanen bersama padi di desa Puubunga, kecamatan Baula, Senin (9/3/2026). FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID

PANEN PERDANA: Management PT Vale Indonesia bersama jajaran pemerintah daerah Kabupataen Kolaka memanen bersama padi di desa Puubunga, kecamatan Baula, Senin (9/3/2026). FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID

Beras itu dijual sekitar Rp24 ribu per kilogram, lebih tinggi daripada beras konvensional yang berkisar Rp18 ribu. “Kami diberi pelatihan mengolah pupuk organik tanpa menggunakan bahan kimia. Kemudian diajarkan mengolah tanah dan mengatasi hama padi secara alami,” kata Watno.

Bagi para petani, program ini membawa harapan baru. Salmi, salah seorang petani sekaligus pengurus Asosiasi Petani Organik Kolaka, merasakan langsung manfaat pendekatan pertanian organik yang diterapkan.

Menurut dia, sistem tersebut mampu menekan biaya produksi karena pupuk dapat dibuat dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Biaya produksi lebih efisien dan harga jual juga lebih baik. Dari sisi produksi, hasil yang kami dapatkan juga lebih tinggi dibanding metode sebelumnya,” ujar Salmi.

Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale di sektor pertanian sendiri telah berjalan sejak 2021, termasuk pengembangan metode SRI organik di wilayah Pomalaa. Hingga Oktober 2025, sedikitnya 55 petani—termasuk sembilan petani perempuan—telah terlibat dalam program tersebut.

PADI MENGUNING: Watno semula ragu dengan keberhasilan program ini, mengaku hanya ingin mencoba metode pertanian yang baru dikenalnya itu lewat sosialisasi padi SRI organik oleh PT Vale Indonesia. Setelah melalui sejumlah pelatihan, Dia mulai yakin, usaha yang dimulinya itu akan membuahkan hasil gemilang. FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID

PADI MENGUNING: Watno (topi coklat) semula ragu dengan keberhasilan program ini, mengaku hanya ingin mencoba metode pertanian yang baru dikenalnya itu lewat sosialisasi padi SRI organik oleh PT Vale Indonesia. Setelah melalui sejumlah pelatihan, Dia mulai yakin, usaha yang dimulinya itu akan membuahkan hasil gemilang. FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID

Di sawah Puubunga yang mulai lengang setelah panen, kumpulan bulir-bulir padi itu seolah menjadi simbol dari sebuah kerja bersama. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, lembaga riset, dan petani perlahan menanam benih harapan baru.

Menurut Hasmir, pendampingan intensif berlangsung mulai tahun 2021–2023 dan program memasuki tahap mandiri sejak 2024. Hingga Oktober 2025, sudah ada 55 petani terlibat, sembilan di antaranya perempuan.

“Awalnya sangat sulit karena petani khawatir rugi. Tapi sekarang petani sudah mandiri dan punya ilmunya,” ujarnya.

Cerita lain datang dari Ratna Sari Dewi, perempuan paruh baya dari Desa Langori, Kecamatan Baula. Bertahun-tahun ia menabung dari berdagang untuk membeli tanah 200 meter persegi. Fondasi rumah bahkan sudah berdiri. Belakangan ia mengetahui tanah itu masuk rencana jalan PT Vale. “Lahan itu kemudian saya jual ke PT Vale,” katanya.

Ratna satu dari 122 pemilik lahan peserta Livelihood Restoration Program (LRP). Ia mengikuti pelatihan manajemen keuangan, lalu belajar tata boga bersama sekitar 30 ibu rumah tangga di Wina Bakery, Kolaka. Kini ia berjualan nasi kuning dan onde-onde untuk pekerja tambang. Modalnya sekitar Rp300ribu, omzetnya bisa mencapai Rp600 ribu.

Angka itu kecil dibandingkan nilai investasi tambang. Namun bagi sebuah keluarga, selisih beberapa ratus ribu rupiah bisa sangat berarti.

Dari diskusi kelompok dengan penerima manfaat LRP, kata Hasmir, 31 orang memilih pelatihan tata boga, 16 pertanian, 16 perdagangan, 19 alat berat, dan tiga usaha bata merah.

“Ketika pembebasan lahan sudah dilakukan, bukan berarti tanggung jawab kita selesai. Pemilik lahan tetap kita perhatikan dan kita dampingi selama kurang lebih dua tahun,” ujarnya.

Program ini penting karena perubahan ruang tidak berhenti pada perpindahan kepemilikan lahan. Yang berubah juga sumber penghidupan, pekerjaan, dan cara keluarga mempertahankan hidupnya.

Ukuran Keberhasilan

Apa arti investasi itu bagi Kolaka?

Bupati Kolaka H. Amri melihat kawasan industri, termasuk IGP Pomalaa, sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Namun manfaatnya, katanya, harus bertahan lebih lama daripada siklus pembangunan proyek.

“Kita ingin investasi ini tidak hanya berdampak sesaat, tetapi berkelanjutan. Tenaga kerja lokal harus diberdayakan, begitu juga pengusaha lokal harus diberi ruang untuk berkembang,” ujarnya.

Ia menyebut program pertanian organik PT Vale dapat menjadi contoh pertambangan berkelanjutan, dan menilai pengelolaan lingkungan perusahaan, dari reklamasi hingga teknologi, menunjukkan komitmen. Meski begitu, ia menegaskan komitmen lingkungan harus terlihat dalam praktik, bukan sekadar laporan administratif. Pemerintah daerah, katanya, akan terus mengawasi.

BERAS ORGANIK: Watno mulai menikmati hasil usahanya bertani padi organik. Harganya eksklusif, peminatnya banyak. Stoknya kadang habis sebelum masa panen berikutnya tiba. FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID

BERAS ORGANIK: Watno mulai menikmati hasil usahanya bertani padi organik. Harganya eksklusif, peminatnya banyak. Stoknya kadang habis sebelum masa panen berikutnya tiba.  

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kolaka Israfil lebih berhati-hati. Ia mengakui perputaran uang meningkat, tenaga kerja lokal terserap, dan pelaku usaha daerah memperoleh ruang. Namun kehadiran industri baru, menurut dia, baru berarti jika hasilnya dirasakan masyarakat.

“Dampaknya memang terasa, tapi ini harus terus didorong. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan itu sederhana, yaitu apakah masyarakat benar-benar sejahtera atau tidak,” katanya.

Ia berharap PT Vale menjadi standar pertambangan yang bertanggung jawab. Ujian sebenarnya, katanya, adalah konsistensi: investasi tidak boleh menggantikan peran negara, tetapi berjalan beriringan dengannya.

Lingkungan tetap menjadi bayang-bayang panjang industri tambang. Karena itu pengawasan pemerintah daerah penting, agar sumber daya yang hari ini memberi nilai ekonomi tidak meninggalkan persoalan bagi generasi berikutnya.

Tanah yang Terus Dibaca

Hasmir mengenal Pomalaa sejak tahun 2003. Ia menyaksikan orang-orang belajar membaca lapisan tanah, kegiatan yang berhenti, pekerja yang berpencar, kawasan bekas bukaan yang direklamasi, lalu sebuah proyek jauh lebih besar yang datang.

Bagi dia, perubahan industri tidak selalu hadir sebagai alat berat. Kadang ia datang sebagai kelas pada Rabu sore. Kadang sebagai petak sawah yang menghasilkan beras berharga lebih tinggi. Kadang sebagai dapur rumah yang kembali mengepul karena pemiliknya punya keterampilan baru.

Lebih dari seabad lalu, tanah merah itu dibaca sebagai bijih yang bisa dikapalkan, lalu sebagai bahan baku feronikel yang dilebur di tungku. Limonit menunggu bertahun-tahun sampai ada cara memberinya nilai. Kini jalannya dicari untuk masuk rantai pasok dari tambang hingga kendaraan listrik.

Sejarah Pomalaa tidak hanya ditulis oleh tungku, pabrik, investasi, dan angka produksi. Ia juga ditulis orang-orang yang belajar dari nol, kehilangan pekerjaan ketika proyek berhenti, berpindah ke tambang lain, kembali ketika kesempatan datang, menanam kembali tanah yang pernah dibuka, dan menunggu masa depan tumbuh bersama tanah mereka.

Tanah merah itu belum selesai dibaca. Mungkin memang tak akan pernah selesai, sebab setiap kali teknologi dan kebutuhan berubah, lapisan baru dari tanah yang sama kembali terbuka untuk dibaca.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dorong Ekonomi Desa Berkelanjutan, ANTAM UBPN Kolaka Raih Gold Award lewat Budidaya Teripang

29 September 2026 - 14:27 WITA

Zona Hitam di Tanah Merah: Industri Nikel, Ancaman Narkoba dan Perebutan Masa Depan Generasi Muda

28 September 2026 - 23:12 WITA

Medical Service Doctor PT Vale IGP Pomalaa, dr. Fathurahman menyampaikan sosialisasi bahaya NAPZA kepada siswa SMP 1 Pomalaa. FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID

Nyamuk Hanya Butuh Genangan, Manusialah yang Menyediakannya

28 September 2026 - 22:56 WITA

Sejumlah warga di Desa Puubenua, Kecamatan Baula berfoto Bersama usai mengikuti program Promosi Kesehatan yang diselenggaran PT Vale Indonesia IGP Pomalaa. Sesi kali ini, sosialisasi program diarahkkan pada intervensi memutus rantai penyebaran DBD. FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID

ANTAM Cetak 10 Emas di Arung Palakka Championship, Bekal Menuju Porprov

28 September 2026 - 15:36 WITA

PT Vale Bawa UMKM Binaannya Masuk Pasar Nasional

27 September 2026 - 16:46 WITA

Trending di Bisnis