Di Pomalaa, kawasan pesisir bagian selatan Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) telah disulap menjadi pusat hilirisasi nikel. Namun ancaman narkoba kini dibicarakan di aula Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pertanyaannya: siapa sesungguhnya yang menjaga anak-anak ini?
Oleh: Abdul Saban
Pagi itu halaman SMP Negeri 1 Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tampak seperti hari lainnya. Siswa berseragam pramuka berjalan berkelompok. Ada yang bercanda, ada yang menyembunyikan wajah di balik buku. Suasana baru berubah di dalam aula. Seratus murid kelas VII dan VIII duduk mendengarkan penjelasan tentang narkotika, zat adiktif, dan HIV/AIDS. Beberapa tahun lalu, tema itu mungkin terasa terlalu jauh bagi anak-anak yang baru lepas dari bangku sekolah dasar.
Kini jaraknya menyusut.
“Pomalaa sudah masuk kategori zona hitam peredaran narkoba,” kata Laode Ndikode, perwakilan Pemerintah Kecamatan Pomalaa, di depan para siswa SMP 1 Pomalaa, pada 23 Mei lalu.
Kalimat itu berat. Kesannya menohok karena ia meluncur bukan dari mimbar aparat penegak hukum, melainkan dari ruang tempat anak-anak biasa belajar membagi pecahan dan menghafal siklus air.
Kota Kecil yang Dipercepat
Pomalaa dikenal sebagai kota kedua di kabupaten Kolaka, wilayah pesisir yang tenang. Tanahnya merah, karakter dengan kandungan nikel. Sejak pemerintah Indonesia menetapkannya menjadi salah satu wilayah pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk hilirisasi nikel, kecamatan ini berubah menjadi menjadi titik temu banyak kepentingan. Investasi tambang mengalirkan pekerja dari berbagai daerah. Permukiman bertambah, jalan ramai, dan denyut kota kecil ini bergerak jauh lebih cepat ketimbang sepuluh tahun silam.
Percepatan semacam itu jarang datang sendirian. Ia membawa ruang-ruang rentan yang baru.
Medical Service Doctor PT Vale IGP Pomalaa, dr. Fathurahman memakai istilah klasik untuk menggambarkan situasinya: gunung es. Kasus yang muncul ke permukaan, menurut dia, hanyalah puncak kecil dari persoalan yang jauh lebih besar. “Situasinya sangat kompleks,” ujarnya.
Fathurahman menyebut ganja, thinner, lem, hingga zat psikotropika lain masih mudah ditemukan di lingkungan tertentu. Kawasan industri yang dihuni pendatang dalam jumlah besar, katanya, memperbesar risiko peredaran. Orang-orang datang dari mana-mana, tak saling kenal, jauh dari keluarga, dengan gaji yang cair setiap bulan. Pengawasan sosial biasanya tak bekerja maksimal.
Pola ini tak hanya terjadi di Pomalaa. Banyak kawasan tambang dan industri di Indonesia bergulat dengan urbanisasi cepat, longgarnya kontrol sosial, dan naiknya peredaran minuman keras serta narkotika. Bedanya, di Pomalaa kecemasan itu kini menyentuh usia sekolah.
Generasi yang Hilang
Kepala SMPN 1 Pomalaa, Nurmadi mengaku prihatin oleh kian santernya isu penyalahgunaan narkoba di wilayahnya. Karena itulah sekolahnya menyambut program edukasi kesehatan dan anti-NAPZA yang digelar PT Vale Indonesia Tbk lewat Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan. Jangan sampai anak-anak kita menjadi lose generation,” katanya.
Istilah itu bukan sekadar hiperbola seorang kepala sekolah. Ia menyimpan cemas dari para guru dan orang tua yang melihat perubahan sosial melaju lebih kencang ketimbang kesiapan masyarakat menghadapinya. Ada yang pergi ke kantor sebelum anaknya bangun, ada yang pulang setelah anaknya tidur. Dalam waktu jeda itulah masalah biasanya tumbuh.

Pemberian cindera mata kepada siswa peserta sosialisasi penggunaan bahaya NAPZA di SMP 1 Pomalaa. FOTO: Abdul Saban/SIBERKITA.ID
Belajar dari Layar Ponsel
Di aula itu, para siswa tak hanya diberi tahu jenis-jenis narkoba. Mereka juga diajak memahami dampak medisnya, gangguan mental yang mengikutinya, risiko kecanduan, sampai ancaman penyakit menular seperti HIV/AIDS. Bagi banyak anak, kata “narkotika” barangkali hanya akrab dari media sosial atau berita kriminal di internet.
Senior Coordinator Safety and Emergency Response PT Vale IGP Pomalaa, Deri Nurjaya Putra melihat ini sebagai inti persoalannya. “Anak-anak sekarang banyak belajar dari HP dan internet. Informasinya bisa benar, tetapi sering tidak memiliki konteks dan pendampingan,” ujarnya.
Konteks dan pendampingan, dua hal yang kerap absen ketika seorang remaja mencari tahu sendirian di layar ponsel. Karena itu perusahaan menghadirkan tenaga medis dan narasumber yang dianggap kompeten untuk berbicara langsung, dengan bahasa yang lebih mudah dicerna pelajar. “Kalau dijelaskan langsung, mereka akan lebih memahami konteksnya, bukan sekadar teori,” kata Deri.
Menurutnya, penyalahgunaan NAPZA kini tak lagi mengenal batas usia. Anak dan remaja mulai masuk kelompok yang rentan terpapar, entah oleh pengaruh lingkungan, entah oleh rasa ingin tahu yang wajar pada umurnya.
Rumah yang Kosong
Kepala Puskesmas Pomalaa, dr. Armayanti sependapat bahwa pencegahan harus dimulai sedini mungkin. Akses terhadap zat adiktif, katanya, makin mudah. “Anak sekolah sebagai generasi muda perlu dibekali mengenai bahaya penggunaan narkoba bagi masa depannya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa narkoba tak bisa dibereskan lewat pendekatan hukum semata. Pencegahan, kata dia, harus lewat pendidikan kesehatan, penguatan keluarga, dan lingkungan sosial yang sehat. Pemerintah Kecamatan Pomalaa mengulang penekanan yang sama pada peran orang tua.
Di sinilah ceritanya menjadi lebih sunyi ketimbang urusan barang haram. Di banyak kawasan industri, perubahan sosial melahirkan jarak antargenerasi. Orang tua sibuk bekerja, ritme hidup berganti, sementara anak-anak tumbuh dalam ruang digital yang nyaris tak terawasi. Ruang yang dulu diisi keluarga perlahan diambil alih media sosial, pergaulan bebas, dan budaya populer yang sulit dikendalikan. Perebutan masa depan generasi muda, pada titik itu, sudah lama berlangsung, meski tak ada yang mengumumkan pertandingannya dimulai.
Investasi Sosial, dan Pertanyaan yang Tersisa
Dalam beberapa tahun terakhir, PT Vale IGP Pomalaa memperluas program promosi kesehatan di wilayah operasionalnya. Kegiatannya tak berhenti di sekolah. Ia menjangkau desa, posyandu, kelompok perempuan, hingga komunitas rentan. Isinya kampanye pencegahan HIV/AIDS, tuberkulosis, demam berdarah, perilaku hidup bersih dan sehat, sampai pemeriksaan kesehatan gratis. Perusahaan juga menggandeng tenaga kesehatan, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan lembaga pendidikan.
Langkah itu menunjukkan satu hal: pembangunan ekonomi saja tak lagi cukup menjawab tantangan kawasan industri. Pertumbuhan menuntut investasi sosial yang sama besar.
Namun, seorang pembaca yang teliti akan menemukan beberapa celah. Sepanjang pagi di aula itu, tak ada angka yang disebut. Berapa kasus penyalahgunaan narkoba yang tercatat di Pomalaa? Berapa yang menimpa pelajar? Apa dasar sebutan “zona hitam”, dan siapa yang menetapkannya? Gunung es memang sulit dihitung, tetapi tanpa data, ia mudah berubah menjadi metafora, dan metafora tak bisa dipakai menyusun kebijakan.
Pertanyaan lain lebih mendasar. Sosialisasi kepada seratus siswa dalam satu pagi adalah awal yang baik, tetapi bukan benteng. Perusahaan yang ikut menghadirkan gelombang pekerja pendatang kini juga menjadi penyelenggara edukasi tentang salah satu dampak gelombang itu. Hubungan sebab-akibatnya tak sederhana dan tak boleh disimpulkan serampangan. Meski begitu, wajar bila warga bertanya sampai di mana tanggung jawab sebuah industri berakhir, dan di mana tugas negara, keluarga, dan sekolah dimulai.
Sekolah kini menjadi salah satu garis pertahanan. Di ruang kelas dan aula, anak-anak Pomalaa belajar matematika dan ilmu alam, sekaligus belajar menjaga diri di dunia yang berubah terlalu cepat.
Perang melawan narkoba di Pomalaa hampir pasti tak selesai dalam waktu dekat. Yang bisa dilakukan adalah menjaga agar anak-anak tak menjadi korban pertamanya. Sebab di tengah gemerlap investasi, ukuran kemajuan bukan hanya berapa banyak pabrik berdiri, melainkan seberapa kuat sebuah masyarakat melindungi anak-anaknya dari ancaman zaman.(*)


























