SIBERKITA.ID, KOLAKA — Pagi itu, langkah Prof. Dr. H. Nur Ihsan HL, M.Hum., tampak tenang saat memasuki Sekretariat Panitia Pemilihan Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka. Di tangannya, berkas pendaftaran yang menandai satu babak baru—atau barangkali kelanjutan dari perjalanan panjang yang telah ia tempuh selama puluhan tahun di dunia akademik.
Bagi sebagian orang, momen ini mungkin sekadar prosedur administratif. Namun, bagi Nur Ihsan, langkah tersebut adalah refleksi dari perjalanan hidup yang berakar dari ruang-ruang kelas, diskusi ilmiah, hingga akhirnya mengemban amanah sebagai rektor.
Jejak akademiknya tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari tradisi keilmuan, menapaki karier dari bawah sebagai pengajar, peneliti, hingga menjadi salah satu figur penting dalam pengembangan kampus yang kini dikenal dengan sebutan “Merah Marun”. Dalam proses itu, ia menyaksikan sekaligus terlibat langsung dalam dinamika perubahan yang dialami USN Kolaka.
Ketika pertama kali dipercaya memimpin pada 2022 silam, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Transformasi kelembagaan, penguatan tata kelola, hingga upaya meningkatkan kualitas akademik menjadi agenda yang terus ia dorong. Di tengah berbagai keterbatasan, langkah-langkah itu perlahan membentuk fondasi baru bagi universitas.
Kini, di ujung masa jabatannya, Nur Ihsan memilih untuk kembali maju. Bukan semata mempertahankan posisi, melainkan melanjutkan arah yang menurutnya belum selesai. Keputusan itu ia wujudkan dengan menyerahkan berkas pendaftaran sebagai bakal calon rektor periode 2026–2030, sekaligus menjadikannya sebagai pendaftar kelima dalam kontestasi kali ini.
Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Irajuana Haidar, menyebut kehadiran petahana sebagai bagian penting dari dinamika demokrasi kampus yang tengah berlangsung.
“Hari ini kami menerima pendaftaran Prof. Dr. H. Nur Ihsan HL, M.Hum. Dengan demikian, genap lima pendaftar yang telah menyerahkan dokumen kepada panitia. Ini menunjukkan bahwa proses yang berjalan mendapat kepercayaan dari para akademisi terbaik,” ujar Irajuana.
Ia menegaskan, seluruh tahapan akan dijalankan secara profesional tanpa membedakan latar belakang kandidat. “Panitia tetap menjaga netralitas. Semua berkas akan diverifikasi secara objektif dan setara, termasuk dari petahana,” katanya.
Di tengah menguatnya kompetisi dengan munculnya lima kandidat lain, keputusan Nur Ihsan ini menghadirkan narasi berbeda—tentang pengalaman, kesinambungan, dan konsistensi dalam membangun institusi. Ia tidak hanya membawa rencana ke depan, tetapi juga rekam jejak yang akan diuji kembali oleh Senat Universitas.
Bagi USN Kolaka, pilihan ke depan bukan sekadar memilih pemimpin baru, tetapi menentukan arah perjalanan institusi. Apakah akan melanjutkan jalur yang telah dirintis, atau membuka babak baru dengan pendekatan berbeda.
Di antara beragam kemungkinan itu, langkah Nur Ihsan pagi ini menjadi penanda bahwa bagi sebagian orang, kepemimpinan bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari ikhtiar panjang untuk terus mengabdi.(*)





























