Menu ✖

Mode Gelap
Bupati Kolaka Gandeng IPB, Dorong Produktivitas Komoditas Unggulan Daerah Kayla Safety Bantah Mengetahui Dugaan Penyalahgunaan APD di Pomalaa Pertanian Organik Kolaka, Menjaga Tanah sekaligus Merawat Ekonomi Petani Produksi dan Penjualan Nikel Vale Meningkat, Pendapatan Tembus 896 Juta Dollar AS Pemkab Kolaka Siapkan Hari Kebudayaan Mekongga, Libatkan Generasi Muda Karhutla di Puulemo dan Baula, Vale Indonesia Siapkan Langkah Penanganan Terpadu

Feature

Dari Daerah Tambang, Wastra Binaan ANTAM UBPN Kolaka Menuju Panggung Nasional

badge-check


 Ketua Harian II Dekranas, Sri Suparni Bahlil saat mengunjungi stan UMKM binaan PT ANTAM Tbk UBPN Kolaka pada pameran Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM di Wilayah Sekitar Pertambangan dan Hulu Migas yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Makassar Kamis (9/7/2026). Perbesar

Ketua Harian II Dekranas, Sri Suparni Bahlil saat mengunjungi stan UMKM binaan PT ANTAM Tbk UBPN Kolaka pada pameran Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM di Wilayah Sekitar Pertambangan dan Hulu Migas yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Makassar Kamis (9/7/2026).

 

Dari dominasi industri nikel, para perajin tenun dan tali rajut asal Kolaka mulai menawarkan wajah lain daerahnya. Melalui tangan-tangan terampil, lahir harapan bahwa ekonomi kreatif dapat menjadi penyangga masa depan setelah stok sumber daya tambang mulai habis.

SIBERKITA.ID, MAKASSAR — Gemerlap lampu Trans Studio Makassar menyorot sesosok perempuan yang berulang kali merapikan bentangan lembaran kain tenun di atas etalase. Sesekali ia mengusap lipatan kain itu, memastikan setiap motif terlihat jelas ketika pengunjung berhenti di depan stan. Dialah Zainab Karbelawati, perajin tali rajut asal Kabupaten Kolaka.

Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, tas-tas hasil rajutan tangan tersusun rapi. Seorang pengunjung mengangkat salah satunya, mengamati simpul demi simpul yang disusun dengan ketelitian, lalu bertanya, “Ini dibuat di mana?”

“Kolaka,” jawab Zainab, singkat.

Jawaban tersebut terdengar sederhana. Namun, bagi para perajin yang hadir dalam Pameran Hari Ulang Tahun ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), 9-12 Juli 2026 di Makassar, nama Kolaka perlahan sedang memperoleh makna baru.

Selama ini, daerah di pesisir barat Sulawesi Tenggara itu lebih akrab dikenali sebagai salah satu pusat industri nikel nasional. Tambang, pelabuhan, dan kawasan industri telah lama membentuk citra ekonomi Kolaka. Akan tetapi, di balik geliat industri ekstraktif tersebut, tumbuh kehidupan lain yang bergerak lebih senyap. Di rumah-rumah sederhana, benang-benang ditenun menjadi kain. Tali-tali dipilin menjadi tas, dompet, dan aneka kerajinan dengan menyimpan jejak budaya masyarakat setempat.

Kini, karya-karya itu mulai menemukan panggungnya. Lewat pembinaan PT ANTAM (Persero) Tbk, dua kelompok usaha mikro dari Kabupaten Kolaka memperoleh kesempatan mengikuti pameran berskala nasional. Mereka datang bukan sekadar membawa barang dagangan, melainkan membawa cerita tentang bagaimana masyarakat lokal berusaha mengubah keterampilan turun-temurun menjadi sumber penghidupan yang lebih menjanjikan.

Di tengah derasnya arus produk industri, karya-karya tersebut menawarkan sesuatu yang tidak dapat diproduksi mesin: sentuhan manusia, kesabaran, dan identitas budaya.

Bagi Zainab, kesempatan tampil di Dekranas adalah titik penting dalam perjalanan usahanya. Selama bertahun-tahun ia memasarkan produknya dalam lingkup yang terbatas. Bertemu langsung dengan pengunjung dari berbagai daerah memberinya pengalaman baru untuk memahami selera pasar sekaligus membangun jejaring yang sebelumnya sulit dijangkau.

“Kami bangga dapat memperkenalkan produk kami kepada masyarakat yang lebih luas. Selain membuka peluang penjualan, kami juga memperoleh banyak masukan mengenai kualitas produk dan tren yang berkembang. Itu menjadi bekal bagi kami untuk terus berinovasi,” ujarnya.

Kisah Zainab menggambarkan persoalan klasik yang dihadapi banyak pelaku UMKM Indonesia. Kualitas produk sering kali bukan lagi menjadi kendala utama. Tantangan terbesar justru terletak pada akses pasar, promosi, pengembangan desain, hingga kemampuan membangun merek agar mampu bersaing dengan produk-produk yang lebih dahulu menguasai pasar.

Karena itu, pemberdayaan masyarakat tidak cukup berhenti pada pelatihan keterampilan. Pendampingan harus menjangkau seluruh rantai nilai, mulai dari peningkatan mutu produksi, pengemasan, pemasaran digital, hingga membuka akses terhadap pasar nasional.

Pendekatan tersebut yang tengah dijalankan ANTAM melalui program tanggung jawab sosial perusahaan di wilayah operasionalnya. Pembinaan terhadap UMKM diarahkan agar pelaku usaha lokal tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Kolaka Region CSR and External Relations Sub Division Head PT ANTAM, Muhammad Rusdan, SH., MH., mengatakan bahwa pameran nasional menjadi ruang penting bagi UMKM untuk menguji daya saing produknya sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

“Kami berharap keikutsertaan ini menjadi motivasi bagi para perajin untuk terus meningkatkan kualitas produknya sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas,”* katanya.

Transformasi semacam ini memiliki arti penting bagi daerah-daerah berbasis sumber daya alam. Karena dalam beberapa tahun terakhir, geliat investasi sektor nikel telah membawa perubahan besar bagi kabupaten Kolaka. Namun, pengalaman dari banyak daerah menunjukkan bahwa pembangunan yang hanya bertumpu pada industri ekstraktif memiliki keterbatasan. Ketika sumber daya alam menjadi penopang utama ekonomi, sektor-sektor lain tetap perlu dipersiapkan agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sumber penghidupan.

Di sinilah ekonomi kreatif menemukan relevansinya. Lewat Wastra, kerajinan tangan, dan produk budaya bukan sekadar komoditas. Ia merupakan investasi sosial yang memelihara identitas lokal sekaligus menciptakan lapangan kerja, terutama bagi perempuan dan kelompok usaha rumah tangga. Nilai tambahnya tidak lahir dari mesin-mesin besar, melainkan dari kreativitas, cerita budaya, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi.

Karena itu, ketika selembar kain tenun Kolaka dipamerkan di panggung nasional, sesungguhnya yang sedang diperlihatkan bukan hanya motif dan warna. Yang hadir di hadapan publik adalah narasi tentang sebuah daerah yang mulai menata masa depannya melalui jalan yang lebih beragam.

Menjelang sore, arus pengunjung di arena pameran masih belum surut. Beberapa membawa kantong belanja berisi kain, tas rajut, atau aksesori hasil karya para perajin daerah. Mungkin bagi sebagian orang, benda-benda itu hanyalah buah tangan dari sebuah pameran.

Namun, bagi para perempuan yang menenun di sudut-sudut Kolaka, setiap produk yang pulang bersama pembelinya membawa harapan yang jauh lebih besar.

Harapan bahwa suatu hari nanti, ketika orang menyebut Kolaka, yang terbayang bukan hanya hamparan tambang nikel. Melainkan juga sehelai wastra yang bercerita tentang ketekunan, kebudayaan, dan martabat masyarakat yang berhasil mengubah kearifan lokal menjadi masa depan.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Kolaka Gandeng IPB, Dorong Produktivitas Komoditas Unggulan Daerah

4 November 2026 - 22:23 WITA

Vale Indonesia Raih Apresiasi Ditjen Minerba atas Kontribusi PNBP

4 November 2026 - 18:51 WITA

Kayla Safety Bantah Mengetahui Dugaan Penyalahgunaan APD di Pomalaa

4 November 2026 - 18:37 WITA

ANTAM UBPN Kolaka Raih The Sustainable Spark Award 2026, Reklamasi 451 Hektare dan Pulihkan Ekosistem Lingkungan

3 November 2026 - 12:40 WITA

Pertanian Organik Kolaka, Menjaga Tanah sekaligus Merawat Ekonomi Petani

1 November 2026 - 17:34 WITA

Trending di Berita Terkini