SIBERKITA.ID, KOLAKA — Pagi itu halaman SMP Negeri 1 Pomalaa tampak seperti biasa. Siswa berseragam pramuka berjalan berkelompok, sebagian bercanda, sebagian sibuk dengan bukunya. Namun, suasana di aula sekolah terasa berbeda, para siswa mendengarkan penjelasan tentang narkotika, zat adiktif, dan HIV/AIDS—tema yang beberapa tahun lalu mungkin terasa terlalu jauh untuk anak usia sekolah menengah pertama.
Kini, ancaman itu justru hadir semakin dekat.
“Pomalaa sudah masuk kategori zona hitam peredaran narkoba,” ujar Laode Ndikode, perwakilan Pemerintah Kecamatan Pomalaa, di hadapan para siswa.
Kalimat itu terdengar berat. Terutama karena diucapkan bukan dalam forum penegakan hukum, melainkan di ruang edukasi sekolah.
Di tengah pertumbuhan kawasan industri nikel yang berkembang pesat di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Pomalaa memang sedang menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai wilayah pesisir tenang kini menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan industri, urbanisasi, dan mobilitas penduduk dalam skala besar.
Di balik geliat ekonomi itu, muncul persoalan sosial yang kian terasa: meningkatnya kekhawatiran terhadap penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif di kalangan usia muda.

Bayang-Bayang di Kawasan Industri
Perubahan wajah Pomalaa tidak terjadi dalam semalam. Masuknya investasi industri pertambangan dan hilirisasi nikel membawa arus pekerja dari berbagai daerah. Aktivitas ekonomi tumbuh, kawasan pemukiman berkembang, dan denyut kota kecil itu bergerak lebih cepat dibanding satu dekade lalu.
Namun, pertumbuhan ekonomi juga menghadirkan ruang-ruang kerentanan baru.
Medical Service Doctor PT Vale IGP Pomalaa, dr. Fathurahman, menyebut fenomena penyalahgunaan narkoba di kawasan industri sebagai “gunung es”. Kasus yang muncul ke publik, menurut dia, hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya jauh lebih besar.
“Situasinya sangat kompleks,” ujarnya.
Menurut Fathurahman, beberapa jenis zat adiktif seperti ganja, thinner, lem, hingga zat psikotropika lain masih mudah ditemukan di lingkungan tertentu. Kawasan industri yang dihuni pendatang dalam jumlah besar dinilai menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko peredaran narkoba.

Fenomena serupa sesungguhnya bukan hanya terjadi di Pomalaa. Berbagai kawasan industri dan pertambangan di Indonesia kerap menghadapi tantangan sosial yang hampir sama: urbanisasi cepat, lemahnya pengawasan sosial, hingga meningkatnya peredaran minuman keras dan narkotika.
Bedanya, di Pomalaa, kekhawatiran itu kini mulai menyentuh usia sekolah.
Kepala SMP Negeri 1 Pomalaa, Nurmadi, mengaku prihatin mendengar semakin maraknya isu penyalahgunaan narkoba di wilayah mereka. Karena itu, sekolah menyambut baik program edukasi kesehatan dan anti-NAPZA yang digelar PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan. Jangan sampai anak-anak kita menjadi lose generation (generasi yang hilang),” katanya.
Istilah “lose generation” bukan sekadar ungkapan emosional. Ia mencerminkan kecemasan banyak orang tua dan guru yang melihat perubahan sosial berlangsung lebih cepat dibanding kesiapan masyarakat menghadapinya.

Anak-anak yang Tumbuh Bersama Internet
Sebanyak 100 siswa kelas VII dan VIII mengikuti sosialisasi pencegahan NAPZA dan HIV/AIDS yang digelar di SMPN 1 Pomalaa. Bagi sebagian siswa, istilah narkotika mungkin hanya mereka kenal dari media sosial atau berita kriminal di internet.
Namun, menurut Senior Coordinator Safety and Emergency Response PT Vale IGP Pomalaa, Deri Nurjaya Putra, informasi dari internet tidak selalu cukup untuk membangun pemahaman yang benar.
“Anak-anak sekarang banyak belajar dari HP dan internet. Informasinya bisa benar, tetapi sering tidak memiliki konteks dan pendampingan,” ujarnya.
Karena itu, PT Vale menghadirkan tenaga medis dan narasumber yang dianggap kompeten agar edukasi dilakukan secara langsung dengan bahasa yang lebih mudah dipahami pelajar.
Menurut Deri, penyalahgunaan NAPZA kini tidak lagi mengenal batas usia. Anak-anak dan remaja mulai menjadi kelompok yang rentan terpapar, baik karena pengaruh lingkungan maupun rasa ingin tahu.
Di ruang aula sekolah itu, para siswa tidak hanya diberi penjelasan tentang jenis-jenis narkoba, tetapi juga dampak medis, gangguan mental, risiko kecanduan, hingga ancaman penyakit menular seperti HIV/AIDS.
“Kalau dijelaskan langsung, mereka akan lebih memahami konteksnya, bukan sekadar teori,” kata Deri.
Pendekatan semacam itu dinilai penting karena pola komunikasi generasi muda telah berubah. Banyak remaja memperoleh pengetahuan dari media sosial yang belum tentu kredibel, sementara ruang dialog di rumah maupun sekolah sering kali terbatas.

Perebutan Ruang Sosial
Kepala Puskesmas Pomalaa, dr. Armayanti, menilai pencegahan harus dimulai sedini mungkin karena akses terhadap zat adiktif semakin mudah ditemukan.
“Anak sekolah sebagai generasi muda perlu dibekali mengenai bahaya penggunaan narkoba bagi masa depannya,” ujarnya.
Menurut dia, persoalan narkoba tidak bisa hanya diselesaikan melalui pendekatan hukum. Pencegahan harus dilakukan melalui pendidikan kesehatan, penguatan keluarga, dan pembangunan lingkungan sosial yang sehat.
Hal serupa disampaikan Pemerintah Kecamatan Pomalaa yang menilai peran orang tua sangat penting dalam mencegah penyalahgunaan NAPZA.
Di banyak kawasan industri, perubahan sosial sering kali menciptakan jarak antargenerasi. Orang tua sibuk bekerja, ritme hidup berubah, sementara anak-anak tumbuh dalam ruang digital yang tidak sepenuhnya dapat diawasi.
Akibatnya, ruang sosial yang dahulu diisi keluarga perlahan digantikan media sosial, lingkungan pergaulan bebas, atau budaya populer yang sulit dikontrol.
Di titik itulah perebutan masa depan generasi muda sebenarnya sedang berlangsung.

Membangun Ketahanan dari Sekolah
Dalam beberapa tahun terakhir, PT Vale IGP Pomalaa mulai memperluas program promosi kesehatan di wilayah operasional perusahaan. Tidak hanya di sekolah, kegiatan edukasi juga dilakukan di desa, posyandu, kelompok perempuan, hingga komunitas rentan.
Program itu mencakup kampanye pencegahan HIV/AIDS, tuberkulosis, demam berdarah, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Di sejumlah kesempatan, perusahaan ini juga menggandeng tenaga kesehatan, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan lembaga pendidikan untuk memperkuat literasi kesehatan masyarakat.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa tantangan kawasan industri tidak lagi cukup dijawab melalui pembangunan ekonomi semata. Pertumbuhan industri membutuhkan investasi sosial yang sama kuatnya.
Sekolah kemudian menjadi salah satu benteng penting.
Di ruang kelas dan aula sekolah, para siswa bukan hanya belajar matematika atau ilmu pengetahuan alam, tetapi juga belajar menjaga diri di tengah dunia yang berubah cepat.
Bagi Pomalaa, pertarungan melawan narkoba mungkin belum akan selesai dalam waktu singkat. Namun, upaya menjaga generasi muda agar tidak terjerumus menjadi langkah penting untuk memastikan kawasan industri itu tidak kehilangan masa depannya sendiri.
Sebab, di tengah gemerlap investasi dan pertumbuhan ekonomi, ukuran kemajuan sesungguhnya bukan hanya berapa banyak industri berdiri, melainkan seberapa kuat masyarakat mampu melindungi anak-anaknya dari ancaman zaman.(*)






























