SIBERKITA.ID, KOLAKA — Pagi itu, aula desa Sopura, kecamatan Pomalaa tak hanya dipenuhi ibu hamil dan kader kesehatan. Sejumlah remaja, tokoh masyarakat, hingga aparat pemerintah ikut duduk berdampingan. Tema yang dibahas bukan perkara ringan: ancaman penyalahgunaan NAPZA dan penyebaran HIV/AIDS yang kini disebut telah memasuki fase mengkhawatirkan di wilayah tersebut.
Kepala Puskesmas Pomalaa, dr. Alriyani Hamzah mengawali sosialisasi dengan membeberkan fakta yang membuat ruangan seketika hening. Pomalaa, kata dia, telah masuk kategori zona hitam penyebaran HIV/AIDS.
Menurut Alriyani, layanan kesehatan berbasis masyarakat seperti Posyandu sebenarnya menjadi garda terdepan pencegahan sejak dini. Posyandu tidak hanya menyasar bayi baru lahir dan ibu hamil, tetapi juga kelompok lansia yang rentan terhadap berbagai penyakit kronis.
“Melalui Posyandu, edukasi kesehatan bisa menjangkau seluruh siklus kehidupan masyarakat, mulai dari ibu dan anak hingga lanjut usia,” ujarnya.
Namun tantangan kesehatan masyarakat kini semakin kompleks. Penyalahgunaan NAPZA—Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif—disebut memiliki keterkaitan erat dengan peningkatan kasus HIV/AIDS.
Petugas Puskesmas Pomalaa, Aris Rante Lino, menjelaskan bahwa kedua persoalan tersebut hampir selalu berjalan beriringan. Penggunaan narkotika, terutama melalui jarum suntik bersama, menjadi salah satu jalur utama penularan HIV.
Ia menguraikan, NAPZA tidak hanya terbatas pada narkotika berbahan kimia seperti heroin dan ekstasi, tetapi juga berasal dari bahan alami seperti ganja. Bahkan zat adiktif yang dianggap lazim—nikotin dan kafein—masuk dalam kategori serupa. Lem inhalan pun termasuk NAPZA karena mampu menurunkan kesadaran pengguna.
“Prinsipnya sama, semua bisa menyebabkan ketergantungan dan merusak tubuh,” kata Aris. Dampaknya tidak main-main: kerusakan otak, gangguan jantung, hingga penyakit paru-paru.
Dalam sesi yang sama, peserta diperkenalkan kembali pada bahaya virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat berkembang menjadi AIDS. Penularannya umumnya terjadi melalui hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi darah terkontaminasi, serta penularan dari ibu hamil kepada janin.
Gejala awal sering kali diabaikan: demam berkepanjangan, berat badan menurun, infeksi berulang, dan tubuh yang mudah lelah. Karena itu masyarakat didorong melakukan tes HIV sedini mungkin di fasilitas kesehatan.
“HIV kini menjadi masalah utama masyarakat, terutama usia produktif,” ujar Aris. Edukasi perilaku sehat, tidak berganti-ganti pasangan seksual, serta penggunaan alat pelindung menjadi langkah pencegahan penting, di samping dukungan sosial bagi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) agar tetap menjalani pengobatan rutin.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Puskesmas Pomalaa, dan PT Vale Indonesia melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.
Senior Coordinator Community Development PT Vale IGP Pomalaa, Charles Cristian menegaskan bahwa perusahaan melihat isu kesehatan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab sosial yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan wilayah operasi.
Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah desa dan tenaga kesehatan yang terus membangun sinergi dalam upaya pencegahan NAPZA dan HIV/AIDS.
“Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan. Edukasi seperti ini menjadi investasi sosial bagi masa depan generasi muda,” kata Charles.
Sementara itu, Sekretaris Camat Pomalaa, Dhani Kahar menekankan bahwa perang terhadap penyalahgunaan NAPZA tidak bisa dibebankan pada pemerintah semata.
“Ini tugas semua pihak. Dimulai dari diri sendiri dengan memperkuat keimanan, lalu dukungan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda di tingkat komunitas,” ujarnya.
Selain isu NAPZA dan HIV/AIDS, sosialisasi juga menyoroti meningkatnya penyakit kronis di masyarakat. Penyakit jantung, hipertensi, stroke, diabetes, obesitas, hingga gagal ginjal kini menjadi ancaman kesehatan jangka panjang.
Tenaga kesehatan menjelaskan bahwa penyakit kronis umumnya dipicu kombinasi faktor genetik, lingkungan, fisiologis, dan perilaku hidup. Penyakit-penyakit tersebut tidak selalu dapat disembuhkan sepenuhnya, melainkan dikendalikan agar tidak menimbulkan komplikasi yang membatasi aktivitas penderita.
Pesan utama yang berulang sepanjang kegiatan itu sederhana namun mendasar: gaya hidup sehat, pemeriksaan kesehatan rutin, serta kepedulian keluarga dan lingkungan menjadi benteng utama masyarakat.
Di Pomalaa, pertarungan melawan NAPZA, HIV/AIDS, dan penyakit kronis kini bukan lagi sekadar agenda kesehatan. Ia telah berubah menjadi perjuangan sosial—menyelamatkan generasi produktif sebelum terlambat.(*)





























