Laporan: Abdul Saban
SIBERKITA.ID, KOLAKA – PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa memperkuat komitmennya dalam mendukung program pemerintah untuk menekan angka kemiskinan dengan menggagas sejumlah program ketahanan pangan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasinya, di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Manager Eksternal Relatioan PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Hasmir mengatakan, program ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) yang memfokuskan intervensinya pada pemenuhan kebutuhan pangan dimulai dari skala rumah tangga, baik dari segi jumlah, kualitas, keamanan maupun akses keterjangkauannya.
Sejumlah program yang digagas PT Vale di Pomalaa diantaranya melaksanakan pelatihan ketahanan pangan keluarga serta tata boga bagi ibu rumah tangga, pendampingan budidaya kakao dan budidaya padi SRI organik.
“Pelatihan ketahanan pangan untuk memastikan keluarga memiliki akses terhadap pangan yang cukup dan bergizi, guna menunjang kesehatan dan produktivitas anggota keluarganya,” ujar senior Hasmir kepada sejumlah awak media di salah satu restoran di kabupaten Kolaka, Sabtu (16/6/2025).
Pelatihan mendorong peserta untuk menghitung pemasukan dan pengeluaran keuangan rumah tangganya. Melalui pelatihan ini, mereka mulai memahami kendala pengelolaan keuangannya selama ini.
“Pengakuan Ibu-ibu ketika mengikuti pelatihan ini, ternyata jumlah pengeluaran mereka lebih besar dari pada pendapatannya. Tim kami kemudian membantu mereka merumuskan solusi untuk masalah mereka, diantaranya dengan mendorong ibu rumah tangga agar memiliki usaha lain sebagai mata pencaharian alternatif untuk meningkatkan ekonominya. Salah satunya dengan memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk ditanami sayur-sayuran,” jelas Hasmir.
Salam Jaya, salah seorang warga desa Huko-huko, Kecamatan Pomalaa mengungkapkan kesyukurannya karena pernah mengikuti pelatihan ketahanan pangan yang diselenggarakan PT Vale. Kini dia mulai mempraktekannya di pekarangan rumah dengan menanam sayuran untuk dikonsumsi sendiri.
“Manfaatnya sangat besar setelah mengikuti pelatihan ketahanan pangan. Program ini sangat bagus dan saya sangat tertarik untuk terus mengikuti program PT Vale, apalagi setelah pelatihan kita tidak dilepas begitu saja, tapi tetap didampingi pihak PT Vale,” kata Salam.
Kisah Ratna Sari Dewi tak jauh berbeda. Warga desa Longori, kecamatan Baula ini mengaku telah mempraktekkan hasil pelatihan ketahanan pangan dengan membuat toge. Dia melibatkan beberapa anggota kelompoknya, dimana hasilnya memuaskan dan hanya memakan waktu sampai 4 hari.
“Sebelumnya memang saya tahu cara membuat toge, tapi hasilnya kurang memuaskan. Namun setelah pelatihan ketahanan pangan yang dilakukan PT Vale, saya kembali membuat toge, hasilnya lebih bagus dari sebelum pelatihan,” kata Ratna.
Ratna mengaku dari hasil pembuatan toge tersebut, saat ini sudah menghasilkan dan menambah pendapatan keluarga, sebab toge dibuat sayur urap kemudian di jual. Karena itu, pembuatan toge ini akan terus dikembangkan baik secara pribadi maupun kelompok, hingga mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.
Tak hanya itu, melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB), Vale mendorong petani sawah di Lamedai, kecamatan Tanggetada untuk menerapkan budidaya padi dengan System of Rice Intensification (SRI) Organik. Program ini masuk dalam Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Dinul, salah seorang petani binaan PT Vale di desa Lamedai mengungkapkan, program PSRLB dengan metode pertanian SRI Organik, PT Vale telah membantu petani di desanya merasakan keuntungan dari aspek produktivitas. “Kita masih bisa panen antara 5 hingga 6 ton per hektarnya. Kalau dulu masih konvensional, tidak sampai segitu. Dan, kita hemat waktu saat sehingga waktu panen kita lebih duluan. Hanya memang, kita tetap harus sabar dan tekun,” terangnya.
Menurutnya, metode SRI organik memberikan banyak keunggulan, selain produksi melimpah dan hemat waktu tanam, dari sisi bibit, metode ini lebih hemat air dan hemat biaya. “Dengan bibit hanya 5 kilogram per hektar, produktivitas yang dihasilkan lebih dari padi konvensional. Aspek hemat biaya lainnya dari tidak digunakannya lagi pupuk kimia,” tuturnya.
Melalui metode SRI Organik, para petani juga diajarkan cara menggunakan pupuk organik. Dengan optimalisasi pupuk organik, para petani dapat memanfaatkan komoditas yang ada di alam, seperti sisa tanaman, limbah makanan, dan sebagainya. Selain tidak membutuhkan biaya, pemanfaatan pupuk organik juga menjaga unsur hara pada tanah pertanian, karena menggunakan pupuk organik kompos, kandang dan Mikro Organisme Lokal (MOL), tentunya dengan bimbingan dan pendamping dari PT Vale.(*)




























