Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang
Berbagai istilah ilmiah sering kali kita temui dalam dunia pendidikan yang berkaitan dengan cara otak bekerja. Sayangnya, tidak semua yang terdengar ilmiah itu benar. Beberapa keyakinan yang berkembang luas justru mengandung kesalahan yang dapat mempengaruhi cara individu belajar. Salah satunya adalah mitos otak kiri dan otak kanan yang dikenal dengan dominasi hemisfer otak yang dapat membantu menjelaskan perbedaan individu dalam belajar atau anggapan bahwa setiap individu memiliki gaya belajar tertentu yang harus diikuti untuk mencapai hasil terbaik dalam belajar. Keyakinan ini dikenal sebagai neuromitos, yaitu kesalahpahaman tentang cara otak bekerja dalam konteks pembelajaran. Meskipun terdengar menarik, neuromitos justru berpotensi menghambat perkembangan pendidikan yang seharusnya berbasis pada bukti ilmiah yang valid dan terpercaya.
Apa Itu Neuromitos?
Neuromitos, atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan “neuromyths,” adalah klaim atau keyakinan yang berkembang di kalangan masyarakat tentang cara otak bekerja, tetapi tidak didukung oleh bukti ilmiah yang valid. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada awal tahun 2000-an, untuk menggambarkan kesalahpahaman yang berkembang mengenai otak, terutama setelah “Dekade Otak” pada tahun 1990-an yang memicu gelombang penelitian ilmiah di bidang neurosains.
Salah satu contoh neuromitos yang paling terkenal adalah klaim bahwa manusia hanya menggunakan 10% dari kapasitas otaknya. Mitos ini, yang sudah beredar selama lebih dari seabad, ternyata tidak benar. Penelitian modern menunjukkan bahwa hampir seluruh bagian otak kita aktif dalam berbagai fungsi kognitif, mulai dari pengolahan informasi sensorik hingga pengaturan emosi dan kontrol motorik.
Gaya Belajar: Mitos yang Merugikan
Salah satu neuromitos yang sering kali juga memengaruhi praktik pendidikan adalah kepercayaan bahwa siswa akan lebih mudah belajar jika mereka diajarkan sesuai dengan “gaya belajar” mereka—misalnya, visual, auditori, atau kinestetik. Meskipun banyak guru percaya bahwa metode pengajaran harus disesuaikan dengan gaya belajar individu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim ini.

Guru yang mempercayai mitos gaya belajar VAK (Visual, Auditori, Kinestetik) mungkin akan menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan perangkat pengajaran yang sesuai dengan tipe belajar siswa mereka, padahal penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang lebih variatif dan melibatkan berbagai jenis media jauh lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa. Dengan terlalu fokus pada satu gaya belajar saja, kita mungkin justru membatasi potensi siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam berbagai konteks.
Mengapa Neuromitos Dapat Merugikan?
Ketika neuromitos diterima tanpa pertimbangan ilmiah yang matang, hal ini dapat memengaruhi keputusan yang dibuat oleh pendidik dan pembuat kebijakan pendidikan. Misalnya, kebijakan yang berfokus pada penerapan gaya belajar atau dominasi hemisfer otak sebagai dasar pengajaran dapat menyebabkan pemborosan sumber daya. Padahal, riset ilmiah telah menunjukkan bahwa otak bekerja lebih kompleks dan fleksibel, dengan kedua hemisfer otak yang berfungsi secara bersamaan dalam berbagai tugas kognitif.
Kebijakan pendidikan yang didasarkan pada neuromitos ini dapat menyebabkan implementasi kurikulum yang tidak tepat dan tidak didukung oleh bukti yang kuat, yang akhirnya berdampak pada kualitas pembelajaran siswa. Bahkan, dalam konteks kebijakan pendidikan di Indonesia, seperti Kurikulum Merdeka, penekanan pada gaya belajar bisa berpotensi terjebak dalam praktik neuromitos, meskipun kurikulum ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas dan kebebasan dalam pembelajaran.
Mengoptimalkan Pembelajaran dengan Neurosains untuk Menekan Neuromitos
Integrasi neurosains dalam pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam mengoptimalkan pemahaman tentang cara otak berfungsi selama proses belajar, serta dalam menghindari penerapan neuromitos yang dapat menghambat efektivitas pengajaran.
Neurosains menganjurkan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai jenis media dan metode dalam pengajaran untuk merangsang berbagai area otak siswa. Sebagai contoh, dalam pengajaran biologi, guru dapat memanfaatkan kombinasi gambar, audio maupun latihan fisik untuk menjelaskan konsep abstrak seperti struktur sel atau siklus hidup organisme. Dengan menggunakan berbagai modalitas ini, tidak hanya satu jenis gaya belajar yang diutamakan, namun seluruh aspek otak siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dalam meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan retensi materi oleh siswa, karena melibatkan berbagai saluran sensorik dan motorik yang mendukung proses pembelajaran yang lebih holistik dan mendalam (Mathias & von Kriegstein, 2023).
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai cara otak bekerja, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik, di mana siswa tidak hanya memahami dunia secara lebih holistik, tetapi juga dapat mengembangkan potensi mereka dengan cara yang lebih efisien dan menyeluruh. Untuk itu, mari kita bersama-sama berusaha menekan neuromitos dan menggantinya dengan pengetahuan yang berbasis ilmu pengetahuan yang valid dan terpercaya.(*)


























