Laporan: Abdul Saban
SIBERKITA.ID, KOLAKA – PT Vale Indonesia Tbk, sebuah perusahaan pertambangan nikel yang menjadi bagian dari Mining Industry Indonesia (MAIN ID) mengukuhkan komitmennya dalam membangun eknomi masyarakat melalui dukungan pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Sorowako, kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur (Lutim).
Salahsatu wujud komitmen itu diwujudkannya dengan mendorong penguatan Galeri Kareso Anatowa yang dikelola langsung Bumdesma Anatoa Otolu. Galeri ini menaungi beberapa wilayah, mulai dari Kecamatan Nuha, Towuti, Malili, dan Kecamatan Wasuponda. Struktur pengurusnya sendiri masing-masing satu orang dari Desa Nikkel, Desa Nuha, Desa Matano, Desa Sorowako dan Kelurahan Magani.
Direktur Utama Bumdesma Anatoa Otolu, Zulfikar Arna Odenjar mengatakan, ada ratusan produk UMKM yang tersedia, mulai dari makanan kering, minuman herbal, kerajinan, beras organik, hingga bumbu dapur. Galeri UMKM ini sudah berdiri selama 4 tahun dan masih mendapat support dari PT Vale dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dengan baik.

Dari ratusan UMKM yang telah memperoleh pendampingan, ada sekitar 5 pelaku usaha yang dinilai sudah mandiri dan memiliki omzet mencapai ratusan juta rupiah.
“Alhamdulillah dari beberapa unit usaha kami, salah satu yang paling sehat juga ini adalah Galeri Kareso Anatoa. Ada beberapa macam unit usaha, tapi saat ini yang ada di sini konsepnya adalah produk retail UMKM Kabupaten Luwu Timur,” kata Zulfikar kepada sejumlah wartawan yang tergabung dalam Media Visit PT Vale 2025, Minggu (27/7/2025).
Menurutnya, produk yang masuk ke galeri UMKM itu tidak memiliki ketentuan khusus. Semua ditampung, kemudian diberikan bimbingan dengan melibatkan langsung mitra kerja PT Vale.
“Ini yang kami lakukan sebagai upaya meningkatkan level UMKM, mulai dari kecil sampai Insyaallah bisa menjadi industri yang besar nantinya,” ujarnya.
Sejauh ini, kata dia, kurang lebih 154 produk dari sekitar 60-an UMKM yang aktif. Semua dari Kecamatan Nuha, Towuti, Malili, dan Wasuponda.
“Kebetulan Kecamatan Nuha yang paling banyak, sekitar 30 UMKM dan selebihnya 10 dari Malili, 10 dari Wasuponda dan juga dari Towuti. Ini UMKM yang aktif, tapi yang terdaftar itu lebih. Jadi ada peningkatan, setiap tahunnya lebih bertambah lagi,” katanya.
Meski demikian, kata dia, sejauh ini untuk produk kriya masih sangat kurang. Yang paling dikenal saat ini adalah anyaman teduhu dari Desa Nuha. Sejauh ini, omset rata-rata yang diperoleh sekitar Rp80 juta sampai Rp100 juta/bulan
Sementara itu, Ketua Kelompok Nuha Handicraft, Yulianti mengatakan, saat ini pihaknya sedang dibantu oleh PT Vale untuk regenerasi.
“Karena kalau saya pribadi yang mau merekrut agak susah. Jadi PT Vale juga sekaligus membantu pendampingan dan pelatihan,” katanya.

Di sisi kiri Galeri Kareso Anatowa, juga berdiri Panti Sehat milik PT Vale yang digerakkan oleh Himpunan Penggiat Herbal Organik (HIPHO). Rumah herbal ini sendiri dikelola oleh ibu-ibu rumah tangga dan beberapa di antaranya adalah penyintas kanke payudara yang berhasil disembuhkan dengan obat herbal.
Tidak hanya menyediakan produk herbal, para pengelola juga dibekali pelatihan mengembangkan produk herbal atau keterampilan memijat kesehatan selama kurang lebih satu sampai tiga bulan.
“Kami juga bukan cuma mengenalkan herbal yang ada di sini. Kami di sini ada pelatihan, sudah melakukan trainer of trainer itu sekitar 33 orang,” kata dia.
Rumah sehat ini merupakan tempat mereka melakukan pengobatan tradisional secara turun-temurun. Di sini, mereka mengembangkan ilmu yang telah didapat dari dokter herbal.
“Kami masing-masing mempunyai keahlian, ada di bagian hipnoterapi, pijat refleksi, dan juga mempunyai keahlian untuk meracik herbal sesuai dengan keluhan,” ujarnya.
Rumah herbal HIPHO sendiri menyediakan kurang lebih 60 produk. Bahan bakunya disiapkan PT Vale melalui lahan sekitar 1,8 hektar yang disiapkan untuk ditanami bahan baku herbal.(*)





























