Menu

Mode Gelap
Pendapatan Daerah Diproyeksi Rp1,4 Triliun, APBD Kolaka 2027 Disiapkan Jadi Motor Investasi dan Layanan Publik RSBG Dituntut Mandiri, Bupati Kolaka Prioritaskan Pembenahan Layanan dan Tata Kelola PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers Ruang Bersama Indonesia di Tikonu: Ketika Desa Menemukan Cara Baru Memberdayakan Perempuan Dari Daerah Tambang, Wastra Binaan ANTAM UBPN Kolaka Menuju Panggung Nasional HUT Dekranas ke-46, Wastra Kolaka Meniti Jalan ke Panggung Nasional

Bisnis

Panen Padi Desa Puubunga, Upaya PT Vale Menyemai Ketahanan Pangan di Kolaka

badge-check


 Management PT Vale Indonesia bersama jajaran pemerintah daerah Kabupataen Kolaka memanen bersama padi di desa Puubunga, kecamatan Baula, Senin (9/3/2026) Perbesar

Management PT Vale Indonesia bersama jajaran pemerintah daerah Kabupataen Kolaka memanen bersama padi di desa Puubunga, kecamatan Baula, Senin (9/3/2026)

SIBERKITA.ID, KOLAKA – Secercah harapan cerah menyelimuti petani sawah Desa Puubunga, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Minggu, (8/32026). Bulir-bulir padi yang menguning bergoyang pelan diterpa angin. Di tengah petak, sejumlah pejabat pemerintah, dan perwakilan perusahaan berdiri berdampingan. Sabit mulai bergerak, memotong batang padi satu per satu—menandai panen bersama demplot padi berkelanjutan yang digagas PT Vale Indonesia melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.

Panen itu bukan sekadar kegiatan pertanian biasa. Ia menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di daerah, sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional yang menempatkan kemandirian pangan sebagai prioritas.

Program tersebut merupakan kelanjutan dari penanaman perdana yang dilakukan pada November 2025 di tiga desa binaan PT Vale: Desa Puubunga dan Pubenua di Kecamatan Baula, serta Desa Lemedai di Kecamatan Tanggetada.

Sebagai perusahaan yang tergabung dalam Group Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Vale mencoba menghadirkan pendekatan berbeda: mempertemukan teknologi pertanian, riset ilmiah, dan pengalaman petani dalam satu lahan percobaan.

Sawah sebagai Laboratorium Pertanian

Di lahan demplot seluas 36 are itu, berbagai metode budidaya diuji. Sekitar 10 are dikelola menggunakan sistem organik, sementara 26 are lainnya menggunakan metode konvensional. Pendekatan ini sengaja dirancang untuk melihat secara langsung perbandingan efektivitas kedua metode tersebut.

Beberapa varietas unggul turut ditanam, di antaranya PR25, PR107, Bujang Marantau, Trisakti, Menthik Wangi, dan Menthik Susu. Selain itu, program ini juga memperkenalkan teknologi Perennial Rice dan sistem Salibu, metode yang memungkinkan tanaman padi dipanen berulang tanpa harus ditanam kembali.

Melalui sistem tersebut, petani berpotensi melakukan panen hingga delapan kali dalam satu kali tanam. Artinya, biaya produksi seperti benih, persemaian, dan pengolahan lahan dapat ditekan hingga 50 persen.

CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari pendekatan keberlanjutan perusahaan yang tidak hanya berfokus pada sektor pertambangan.

“Bagi PT Vale, keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana kami menambang secara bertanggung jawab, tetapi juga bagaimana kami tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi kami,” ujar Bernardus.

Menurut dia, program demplot padi berkelanjutan ini dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui inovasi pertanian yang adaptif dan ramah lingkungan.

 

Hasil Panen yang Menjanjikan

Panen pertama dari demplot tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Pada lahan organik seluas 10 are, khususnya varietas Trisakti, hasil panen mencapai sekitar 6,9 ton. Ini menunjukkan bahwa metode organik dengan pendekatan presisi mampu memberikan produktivitas yang kompetitif sekaligus menjaga kesehatan tanah dan ekosistem.

Sementara itu, pada lahan konvensional seluas 26 are, total panen mencapai sekitar 15 ton dari enam varietas yang diuji.

Head External Relation Growth PT Vale, Endra Kusuma, mengatakan pendekatan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat ekosistem ekonomi lokal.

“Kami melihat pertanian berkelanjutan sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Melalui program ini, kami tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mentransfer pengetahuan dan teknologi kepada para petani,” kata Endra.

Selain peningkatan produksi, para petani juga mendapatkan pendampingan intensif mulai dari pengelolaan lahan, penggunaan pupuk organik, hingga pengendalian hama terpadu.

 

Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha

Pemerintah Kabupaten Kolaka menyambut baik inisiatif tersebut. Sekretaris Daerah Kabupaten Kolaka, Akbar, menilai kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menurutnya, jika lebih banyak perusahaan turut mendukung sektor pertanian, target swasembada pangan nasional akan semakin mudah tercapai.

“Sinergi pemerintah dan perusahaan sangat dibutuhkan untuk mewujudkan ketahanan pangan. PT Vale menjadi salah satu perusahaan yang ikut berkontribusi dalam program ini,” ujarnya.

Ia berharap perusahaan lain, khususnya di sektor pertambangan, dapat mengikuti langkah serupa.

“Perusahaan ini tidak hanya memikirkan bagaimana mengelola sumber daya alam, tetapi juga memberi dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Akbar.

 

Dari Sawah Menuju Masa Depan Pangan

Bagi para petani, program ini membawa harapan baru. Salmi, salah seorang petani sekaligus pengurus Asosiasi Petani Organik Kolaka, merasakan langsung manfaat pendekatan pertanian organik yang diterapkan.

Menurut dia, sistem tersebut mampu menekan biaya produksi karena pupuk dapat dibuat dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Biaya produksi lebih efisien dan harga jual juga lebih baik. Dari sisi produksi, hasil yang kami dapatkan juga lebih tinggi dibanding metode sebelumnya,” ujar Salmi.

Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale di sektor pertanian sendiri telah berjalan sejak 2021, termasuk pengembangan metode SRI organik di wilayah Pomalaa. Hingga Oktober 2025, sedikitnya 55 petani—termasuk sembilan petani perempuan—telah terlibat dalam program tersebut.

Di sawah Puubunga yang mulai lengang setelah panen, kumpulan bulir-bulir padi itu seolah menjadi simbol dari sebuah kerja bersama. Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, lembaga riset, dan petani perlahan menanam benih harapan baru.

Dari petak sawah kecil di Baula itu, mimpi tentang ketahanan pangan nasional perlahan tumbuh—setangkai demi setangkai.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendapatan Daerah Diproyeksi Rp1,4 Triliun, APBD Kolaka 2027 Disiapkan Jadi Motor Investasi dan Layanan Publik

31 Juli 2026 - 17:39 WITA

Produksi Pulih, Laba PT Vale Melonjak; Hilirisasi Nikel Masuk Fase Penentu

30 Juli 2026 - 11:08 WITA

Pekan Raya ANTAM Jadi Etalase UMKM, Perkuat Ekonomi Lokal Kolaka

29 Juli 2026 - 18:22 WITA

Wujudkan Semangat Tangguh dan Bertanggung Jawab, PT Vale Perkuat Ekosistem Informasi Publik yang Kredibel

27 Juli 2026 - 11:08 WITA

Bertumbuh dengan Tanggung Jawab, PT Vale Perkuat Hilirisasi dan Keberlanjutan di Morowali

26 Juli 2026 - 17:03 WITA

Trending di Bisnis